Baghdad, LiputanIslam.com – Kelompok Resistensi Islam Irak (IRI) menyatakan pihaknya telah menyerang Bandara Ben Gurion dua kali dalam satu minggu dengan menggunakan drone.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (20/3), IRI mengkonfirmasi serangannya terhadap Israel yang melancarkan perang genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza.
“Pejuang IRI di Irak, pada dini hari Selasa menyerang bandara Ben-Gurion di kedalaman wilayah Zionis dengan menggunakan drone,” bunyi pertanyaan itu.
IRI juga menegaskan komitmennya untuk “menyerang benteng musuh”, sebagai bagian dari operasi tahap kedua untuk mendukung rakyat Palestina di Gaza.
Sebagai reaksi atas pembantaian Israel terhadap warga sipil Palestina yang tidak bersalah, tahap kedua operasi IRI telah dimulai dan mencakup pemberlakuan blokade terhadap navigasi maritim Israel di Mediterania dan pelumpuhan layanan pelabuhan-pelabuhan Israel.
IRI juga menyerang bandara yang sama pada tanggal 12 Maret dengan menggunakan drone.
IRI mengaku akan melanjutkan serangannya terhadap sasaran-sasaran Israel sampai rezim tersebut menghentikan genosida di Gaza.
Serangan ini juga menyasar pangkalan militer utama AS di Suriah dan Irak di tengah kemarahan atas dukungan AS terhadap serangan gencar Israel di Gaza.
IRI juga mengaku bertanggung jawab atas serangan pada akhir Januari di perbatasan Yordania dengan Suriah yang menewaskan tiga tentara AS.
Dalam beberapa minggu terakhir, IRI mengintensifkan operasinya terhadap sasaran-sasaran Israel di wilayah pendudukan Palestina.
IRI menargetkan pangkalan drone Israel di wilayah pendudukan Dataran Tinggi Golan Suriah dengan menggunakan drone.
Sekjen Gerakan al-Nujaba, Akram al-Kaabi, pada 25 Februari menegaskan pihaknya tidak akan berhenti menyerang sasaran Israel di wilayah pendudukan Palestina.
“Kami tidak akan mengabaikan tujuan membebaskan Irak dari kehadiran AS, dan kami mendukung Palestina dengan menyerang rezun pendudukan Israel,” tegasnya.
Israel melancarkan perang terhadap Gaza pada tanggal 7 Oktober. Sejak awal perang, rezim Zionis tersebut telah membunuh lebih dari 31.600 warga Gaza, yang sebagian besarnya adalah wanita, anak-anak, dan remaja.
Menanggapi kejahatan Zionis tersebut, kelompok-kelompok resistensi dari Lebanon, Irak, dan Yaman telah melakukan operasi militer anti-Israel di kawasan Timteng. (mm/presstv)