Baghdad, LiputanIslam.com – Kubu pejuang Irak melancarkan serangan drone terhadap pelabuhan terbesar dan tersibuk di Israel (Palestina pendudukan 1948) sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina yang diserang Israel di Gaza.
Kelompok Resistesi Islam Irak (IRI), sebuah kelompok payung pejuang anti-teror, dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di saluran Telegram pada hari Ahad (3/3), mengaku bertanggung jawab atas serangan udara yang menyasar gudang bahan kimia di dalam pelabuhan Haifa dua hari sebelumnya.
Disebutkan bahwa serangan itu dilakukan “sebagai penolakan terhadap kehadiran militer AS di Irak dan tempat lain di kawasan ini, dan untuk mendukung orang-orang kami di Gaza serta sebagai reaksi atas pembantaian warga sipil Palestina, termasuk anak-anak, wanita, dan orang lansia oleh entitas perampas (Israel)”.
Mereka bersumpah akan terus menyerang Israel sampai “penghancuran benteng musuh.”
Bulan lalu, IRI juga mengaku mereka telah melakukan serangan drone di pelabuhan Haifa di wilayah pendudukan Israel.
“Sebagai kelanjutan dari cara kami untuk melawan pendudukan dan mendukung rakyat kami di Gaza, (pejuang kami), dengan menggunakan drone, menyerang pelabuhan Haifa di wilayah pendudukan di Palestina,” ungkapIRI dalam sebuah pernyataan pada tanggal 1 Februari.
Mereka juga mengaku bertanggung jawab atas serangan yang membidik pangkalan militer yang diduduki AS, termasuk serangan pada akhir Januari di perbatasan Yordania dengan Suriah yang menewaskan tiga tentara AS.
Sejak dimulainya agresi, Israel telah membunuh sedikitnya 30.410 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut hitungan terbaru Kementerian Kesehatan Gaza.
AS, sekutu tradisional Israel, telah mendukung serangan Tel Aviv di wilayah Palestina dan memberikan dukungan militer yang luas kepada rezim tersebut sejak awal perang.
Washington juga menggunakan hak vetonya untuk menghalangi resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza. (mm/presstv)