Ghaziyeh, LiputanIslam.com – Jet tempur pasukan Zionis Israel melancarkan sedikitnya dua serangan udara di kota pesisir Ghaziyeh di Lebanon selatan, menurut militer Israel dan media pemerintah Lebanon.
Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon dan Israel hampir setiap hari terlibat baku tembak di sekitar perbatasan sejak Israel melancarkan serangannya ke Gaza sebagai tanggapan atas serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober.
“Pesawat-pesawat tempur Israel melakukan serangan di kota Ghaziyeh,” lapor Kantor Berita Nasional (NNA) yang dikelola pemerintah pada hari Senin (19/2).
Belum jelas apakah ada korban jiwa, sedangkan korban jiwa ada sekitar 14 orang, yang sebagian besarnya adalah pekerja Suriah dan Palestina
Ghaziyeh berjarak sekitar 5 km dari kota pelabuhan selatan Sidon, dan sekitar 60 km di utara perbatasan dengan Israel.
Juru bicara militer Israel, Avichay Adraea, mengatakan “Kami membidik depot senjata Hizbullah di dekat Sidon sebagai respons terhadap ledakan pesawat (nirawak) musuh yang puing-puingnya kami temukan di dekat daerah Tiberias sore ini. Kami akan terus bertindak tegas dalam menanggapi serangan Hizbullah.”
Klaim yang sama juga dilontarkan oleh juru bicara militer Israel lainnya, Daniel Hagari, sementara hingga berita ini disusun belum ada komentar dari Hizbullah.
Dilaporkan bahwa sebuah pabrik menjadi sasaran serangan tersebut, tak lama setelah Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas dua serangan terhadap pos-pos Israel di daerah perbatasan Shebaa Farms.
Sebuah kelompok Lebanon yang menamakan dirinya Gerakan Pemuda Lebanon dalam sebuah pernyataan membantah adanya hubungan antara pemilik perusahaan generator Infinite Power dan aktivitas apa pun yang terkait dengan senjata, amunisi, dan bahan peledak.
“Perusahaan pembangkit listrik Infinite, yang menjadi sasaran musuh Israel sore ini (Senin) di wilayah Ghaziyeh di Lebanon selatan, dan medianya mengklaim bahwa perusahaan tersebut berisi senjata dan bahan peledak, mitra utama dan manajer umumnya adalah Muhammad Hassan Laila, anggota biro politik gerakan di Kegubernuran Selatan Sejak 2017,” bunyi pernyataan itu.
Gerakan itu menegaskan kembali “penolakannya terhadap operasi kriminal yang dilancarkan oleh musuh bengis di wilayah Lebanon dan Palestina pendudukan,” dan menekankan bahwa “operasi itu tidak akan menyurutkan semangat masyarakat Lebanon untuk mempertahankan setiap inci tanah mereka”. (mm/raialyoum/aljazeera)