AlQuds, LiputanIslam.com – Sumber politik Israel membenarkan pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump bahwa Israel berpartisipasi dalam perencanaan pembunuhan Qassem Soleimani tapi memutuskan untuk mundur dua hari sebelum operasi tersebut dilakukan.
Dikutip surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, Ahad (4/2), sumber itu mengatakan: “Untuk waktu yang lama, Mossad dan intelijen militer telah mematangkan operasi untuk membunuh Soleimani, dan pada saat yang tepat, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjadi lesu karena takut Iran akan membalas dengan membunuh para tokoh senior Israel.”
Menurut sumber itu, berdasarkan rekomendasi Menteri Pertahanan AS, Trump memutuskan untuk melaksanakan operasi tersebut, dan mereka pun melakukannya.
Sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan Fox News secara implisit menyerang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan mengatakan bahwa Israel berpartisipasi dalam perencanaan pembunuhan Qassem Soleimani tetapi mundur pada menit-menit terakhir.
“Saya memberi tahu sang jenderal, ‘Ayo kita lakukan.’ Tapi Israel adalah bagian dari hal tersebut, Bibi (Benjamin Netanyahu) adalah bagian besar dari hal tersebut, dan kami merencanakan segalanya,” ujar Trump.
Dia mengklaim bahwa Iran menelepon dia ketika dia menjadi presiden untuk memberitahukan kepadanya tentang serangan yang mereka tujukan terhadap militer AS, menurut Russia Today.
Pada tanggal 3 Januari 2020, AS melesatkan dua rudal Hellfire ke konvoi mobil komandan Pasukan Quds di Garda Revolusi Iran, Letjen Qasem Soleimani, dan wakil kepala pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi, Abu Mahdi Al-Muhandis, di dekat bandara internasional Baghdad.
Pada awal tahun 2023, pengadilan Iran mengungkapkan jumlah negara yang berpartisipasi dalam pembunuhan Soleimani, dan mengidentifikasi 125 terdakwa dan tersangka, yang merupakan anggota struktur pemerintahan AS. (mm/raialyoum)