Sanaa, LiputanIslam.com – Menteri Pertahanan Yamanpada pemerintahan sementara, Mayjen Muhammad Nasser Al-Atefi, menegaskan kesiapannya untuk melakukan pencegahan dan balasan, sembari menyebutkan bahwa negara ini eksis di Laut Merah dan Laut Arab.
“Kami menyadari bahwa hal ini mengganggu Amerika, Zionis, dan orang-orang di sekitar mereka, dan kami ingin mereka tetap terganggu sampai mereka menghentikan bencana dan pembantaian rakyat Palestina, dan melakukan kesepakatan dengan Republik Yaman sebagai negara yang merdeka, bersatu, mandiri, dan yang mempunyai kedaulatan penuh atas seluruh geografi Yaman, baik darat, laut, dan udara,” ungkapnya saat melakukan kunjungan lapangan kepada para komandan brigade, kompi, batalyon, formasi operasi, dan dukungan logistik brigade cadangan di Wilayah Militer Kelima, Jumat (12/1).
Dia menegaskan,“Semakin lama berlangsung perang terhadap saudara-saudara kami di Gaza akan semakin banyak kejutan dari kami, dan kejutan-kejutan itu akan muncul pada waktu yang tepat dan waktu yang dipilih oleh pemimpin bangsa (Sayid Abdul Malik Al-Houthi), yang telah diberi wewenang oleh rakyat Yaman untuk mengambil keputusan membela Palestina dan kubu resistensi di Gaza.”
Mayjen Al-Atefi menambahkan, “Di sini kita menemukan kesempatan untuk memberitahu orang-orang di lautan, pulau-pulau, dan seluruh geografi Yaman bahwa periode mandat, hegemoni, dan subordinasi telah terkubur, terlupakan dan hilang untuk selamanya, dan sebuah era baru Yaman yang sehat telah muncul dengan kedaulatan penuh dan keinginan untuk memiliki keputusan nasionalnya.”
Pada Jumat dini hari, pasukan AS dan Inggris melancarkan serangan udara, kapal, dan kapal selam terhadap beberapa sasaran di Yaman.
Gerakan perlawanan Ansarullah Yaman mengutuk serangan itu, dan memperingatkan pangkalan militer mereka di wilayah tersebut akan diserang jika mereka memilih untuk meningkatkan agresi.
Serangan terhadap Yaman terjadi setelah pasukan Yaman menargetkan beberapa kapal milik dan tujuan Israel di Laut Merah demi membela orang Palestina di Gaza yang dilanda perang, di mana lebih dari 23.000 warga Palestina gugur akibat serangan gencar Israel sejak 7 Oktober.
Menteri Pertahanan Yaman menjelaskan bahwa AS membawa armada kapal induk, kapal perang, fregat, kapal perusak dan kapal selam ke Laut Arab dengan tujuan memulihkan gengsi dan pengaruhnya, menguasai kawasan dan mengurangi kehadiran negara-negara Asia Timur dan Utara di kawasan Timteng.
Ditujukan kepada AS, dia mengatakan, “Anda memperlakukan kesalahan dengan kesalahan, atau dengan kesalahan yang lebih serius dan mengerikan. Karena itu, wibawa Anda akan semakin menipis, dan dengan melakukan hal tersebut Anda mengancam perekonomian dunia. Anda harus berhenti terseret ke dalam lobi Zionis, dan mengekang entitas bangkrut (Israel) yang membalas dendam terhadap orang Palestina, dan membakar mereka dengan senjata yang dilarang secara internasional.”
Al-Atefi juga mengatakan, “Kami telah berulang kali memperingatkan bahwa Laut Merah telah menjadi zona terlarang bagi entitas Zionis, dan kami hanya menyerang kapal-kapal entitas Zionis dan pendukungnya, atau kapal-kapal yang menuju ke entitas tersebut, sedangkan kapal-kapal lain di dunia yang melewati Laut Merah, Teluk Aden, dan Laut Arab aman dan tenteram serta tidak akan dirusak.”
Dilaporkan bahwa perusahaan pelayaran Israel telah memutuskan untuk mengubah rute kapal mereka karena takut akan serangan pasukan Yaman.
Pasukan Yaman juga telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sasaran di wilayah pendudukan Israel setelah agresi rezim di Gaza.
Di pihak lain, Presiden AS Joe Biden di hari yang sama bersumpah akan menanggapi pasukan Yaman jika mereka terus mengganggu.
Dia mengaku yakin tidak ada korban sipil akibat serangan terhadap pasukan Yaman.
Biden juga menggambarkan pasukan Ansarullah (Houthi) di Yaman sebagai “organisasi teroris.”
Seorang jenderal AS mengatakan bahwa Ansarullah meluncurkan rudal balistik anti-kapal pada hari Jumat sebagai tanggapan atas serangan Amerika dan Inggris.
“Kami tahu mereka menembakkan setidaknya satu rudal sebagai pembalasan,” ujar Direktur Operasi Kepala Staf Gabungan Letjen Douglas Sims kepada wartawan, sembari menyebut bahwa rudal tersebut tidak mengenai kapal mana pun.
Sementara itu, Iran mengutuk serangan AS terhadap Yaman. Sembari menyatakan kutukan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian di platform X menyatakan, “Langkah Yaman dalam membela perempuan dan anak-anak Gaza serta konfrontasi melawan genosida rezim Israel patut dipuji.”
Dia juga menyebutkan; “Daripada melakukan serangan militer ke Yaman, Gedung Putih seharusnya segera menghentikan kerjasama militer dan keamanan dengan Tel Aviv terhadap rakyat Gaza dan Tepi Barat, sehingga keamanan akan kembali ke seluruh wilayah.” (mm/alalam/presstv)