Teheran, LiputanIslam.com – Angkatan Laut Iran mengumumkan penyitaan sebuah kapal tanker minyak di perairan Laut Oman sebagai pembalasan atas penyitaan kapal tanker oleh Amerika Serikat (AS) tahun lalu karena membawa minyak Iran.
Angkatan Laut Iran dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (11/1) mengatakan bahwa kapal tanker minyak Suez Rajan telah mencuri muatan minyak Iran di bawah bimbingan AS dan memindahkannya ke pelabuhan AS.
Pada bulan April 2023, Washington secara ilegal menyita sebuah kapal yang membawa minyak Iran dengan kedok “operasi penegakan sanksi”. Pada akhir Agustus, Angkatan Laut AS menurunkan kapal tanker berisi minyak curian Iran senilai sekitar $56 juta dari pelabuhan Texas.
Media Iran menyebutkan, “ Ini bukan pertama kalinya AS melakukan tindakan bodoh, mencuri minyak dan secara terang-terangan membual tentang hal tersebut. Bandit dan premanisme khas Amerika telah terlihat dalam banyak kesempatan dalam beberapa tahun terakhir.”
Para pejabat Iran mengecam keras aksi pembajakan yang dilakukan AS, dan memperingatkan bahwa Teheran tidak akan membiarkan tindakan ilegal tersebut dibiarkan begitu saja. Mereka memperingatkan Washington bahwa “era tabrak lari” telah berakhir, dan menekankan bahwa Teheran tidak akan berdiam diri dalam kaitannya dengan pelanggaran hak-hak bangsa.
Mereka menegaskan bahwa tindakan pelanggaran terhadap kapal tanker yang membawa minyak Iran adalah “contoh nyata pembajakan”. Mereka mengingatkan pihak-pihak yang berencana menyita minyak Iran untuk meninjau sejarah tindakan Teheran dalam kasus serupa.
AL Iran menyatakan bahwa kapal tanker tersebut, yang berganti nama menjadi ST Nicholas, disita pada hari Kamis sesuai “perintah pengadilan” dan “sebagai pembalasan atas pencurian minyak Iran oleh AS”.
Di pihak lain, Gedung Putih di hari yang sama mengatakan bahwa AS mengutuk penyitaan kapal tanker minyak di lepas pantai Oman oleh Iran dan menyerukan pembebasan segera kapal tersebut dan awaknya.
“Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menyitanya, tidak ada alasan sama sekali. Mereka harus membiarkannya berlayar,” ungkap Juru bicara Keamanan Nasional AS John Kirby kepada wartawan.
Perusahaan Yunani Empire Navigation menyatakan bahwa kapal tanker minyak itu milik mereka dan “membawa 18 awak Filipina dan satu Yunani.” Dia menjelaskan bahwa “dalam beberapa hari terakhir, telah memuat kiriman sekitar 145 ribu ton minyak mentah di Basra (Irak), menuju ke Alia (Turki) melalui Terusan Suez.”
“Empat hingga lima orang bersenjata menaiki kapal tanker minyak mentah St. Nicholas yang mengibarkan bendera Kepulauan Marshall saat kapal itu berada sekitar 50 mil laut di sebelah timur negara bagian Sohar, Oman,” kata Perusahaan Keamanan Maritim Embrey.
Dijelaskan bahwa orang-orang bersenjata itu mengenakan “seragam militer hitam dan topeng hitam” dan “menutupi kamera pengintai di atas kapal,” dan bahwa kapal tanker itu sendiri, sebelum berganti nama, telah dituntut karena mengangkut minyak Iran yang dikenai sanksi dan denda oleh AS. (mm/fna/raialyoum)