Kairo, LiputanIslam.com – Sejak beberapa hari lalu beredar viral dan kontroversial di tengah warganet Arab video Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad Al-Tayyeb yang menyerukan aksi boikot minyak untuk mengubah situasi terkait dengan invasi militer rezim Zionis Israel di Gaza.
Dalam video wawancaranya dengan televisi resmi itu dia mula-mula mengingatkan bahwa Israel telah melakukan genosida yang tak memilih korban sehingga banyak di antaranya adalah anak kecil dan lansia.
Dia kemudian secara blak-blakan menyatakan seruan aksi boikot minyak barang satu minggu, yang menurutnya, pasti akan mengubah keadaan.
“Silakan melihat kemari, wahai Amerika, silakan, wahai Inggris. Kemarilah dan katakanlah kepada kami apa yang harus kita lakukan untuk (membuat) peta baru,” tuturnya dalam video itu.
Dia menambahkan, “Kami menunggu, menunggu apa? Yakni kami siap untuk perkembangan ini, dan di tangan kami ada segala sesuatu.”
Dia lantas menegaskan, “Hei Pak, seandainya kami memboikot minyak barang semingga saja maka urusan akan berubah, demi Allah. Seminggu saja, bukan untuk selamanya.”
Syeikh Ahmad Al-Tayyeb menjelaskan, “Seandainya kita (umat Islam) menutup pertambangan terhadap pabrik-pabrik Eropa, maka demi Allah, Anda akan mendapati pabrik-pabrik itu berhenti berputar.”
Dia kemudian menyayangkan aksi boikot demikian tidak dilakukan oleh negara-negara Arab dan Islam produsen minyak, dan dia menilai hal ini tak lain karena adanya perpecahan di tengah mereka.
Dia mengatakan, “Tapi, mengapa kita tidak bertindak demikian? Sebabnya jelas, yaitu perpecahan yang berkelanjutan. Dan mereka (pihak lawan) sangat menginginkan perpecahan ini berkelanjutan. Mereka juga memantau segala upaya untuk mengumpulkan para pemimpin, atau mempertemukan negara-negara Arab dan Islam.”
Dia juga menambahkan, “Saya punya data bahwa pantauan itu singkatnya ialah bahwa jangan sampai membiarkan satupun rumah (negara) di kawasan Arab berada dalam kondisi aman barang sehari.”
Tidak jelas kapan wawancara itu diadakan, namun di tengah kontroversi yang ada terkait dengan pernyataan itu, berbagai pihak menduga video itu merupakan rekaman lama yang kurang relevan dengan kebijakan Mesir yang masih menutup pintu perbatasan Rafah antara Mesir dan Jalur Gaza.
Sebagian warganet Iran menanggapi pernyataan itu dengan desakan supaya Syeikh Al-Tayyeb merilis fatwa syar’i yang berfokus pada pembukaan pintu perbatasan Rafah demi memudahkan penyaluran bantuan serta evakuasi para korban luka dari Gaza.
Beberapa pegiat medsos menyarankan Syeikh Al-Tayyib meninjau langsung pintu perbatasan itu, bukan malah diam dan tidak menyinggung masalah ini.
Tak hanya itu, sejumlah warganet dari negara-negara Arab produsen minyak di Teluk Persia bahkan menyoal Al-Tayyib mengapa Mesir tidak menutup Terusan Suez dan tidak pula berhenti menjual gas kepada Israel. Menurut mereka, hal itu lebih efektif daripada urusan boikot minyak terhadap negara-negara Barat. (mm/raialyoum)
Baca juga: