Washington, LiputanIslam.com – Surat kabar AS Wall Street Journal (WSJ) mengutip penyataan juru bicara militer Israel bidang internasional, Letkol. Jonathan Conricus, bahwa kelompok pejuang Hizbullah telah melancarkan lebih dari 1.000 serangan terhadap Israel sejak tanggal 7 Oktober lalu.
WSJ menyebutkan bahwa Hizbullah berusaha untuk mempertahankan front kedua untuk membela sekutunya di selatan, yaitu para pejuang Palestina yang bertempur sengit melawan pasukan pendudukan.
Conricus menjelaskan bahwa front utara “sedang mengalami peningkatan yang stabil dalam hal cakupan dan variasi amunisi yang ditembakkan Hizbullah ke Israel.”
Ketika ditanya tentang kemungkinan pecahnya perang di utara, komandan divisi cadangan tentara Israel itu tertawa, karena “front itu sudah terbuka,” dan “dibuka oleh sebuah organisasi (Hizbullah) yang merupakan bagian dari pemerintah Lebanon.”
Menurutnya, menjelang 7 Oktober, terdapat konsensus dalam lembaga keamanan Israel bahwa “tidak masalah apa yang ada di seberang perbatasan, selama tembok Israel kuat. ”
Namun, menurut WSJ , konsensus ini telah hilang , dan kini tampak bahwa “Israel harus memilih antara melakukan tindakan pencegahan terhadap Hizbullah, atau benar-benar menyerahkan wilayah perbatasan utara.”
WSJ menyebutkan bahwa kehidupan di wilayah Lebanon tetap berjalan normal, sementara permukiman Israel ditutup akibat trauma peristiwa 7 Oktober sehingga para pemukim di wilayah utara “belum siap untuk kembali.”
Sementara itu, Mayjen Israel Ziv dari pasukan cadangan memandang apa yang terjadi di permukiman di wilayah utara Palestina pendudukan sebagai “kebalikan (resolusi PBB) 1701”, karena Israellah yang “mundur”.
Ziv menggambarkan situasi di utara sebagai “lebih sulit daripada di selatan,” dan pemukiman Kiryat Shmona , yang merupakan salah satu salah satu pemukiman terbesar di utara, sudah menjadi kota “kota hantu.” (mm/almayadeen)
Baca juga: