Doha, LiputanIslam.com – Kepala Biro Politik gerakan Hamas, Ismail Haniyeh, menyatakan pertempuran di Jalur Gaza “mendekati akhir yang terhormat” berkat keteguhan orang-orang Palestina di Jalur Gaza dan kegagah beranian para pejuang mereka.
Haniyeh dalam pernyataannya pada Rabu malam (13/12) memastikan kubu pejuang di Jalur Gaza “kuat dan solid,” sementara rezim pendudukan Israel “akan lenyap”.
Menurutnya, perjuangan faksi-faksi resistensi Palestina di Gaza menciptakan interaksi yang “memiliki masa depan, dan aliansi musuh justru mulai dipertaruhkan.”
Haniyeh juga mengingatkan bahwa bangsa Palestina di seluruh wilayah keberadaan mereka “masih menjadi sasaran pendudukan,” dan karena itu dia menyerukan umat di negara-negara Arab dan Islam untuk memperluas ruang kerja mereka demi perjuangan Palestina.
Haniyeh menegaskan, “Musuh, Israel, akan membayar harga atas kejahatannya. Kepahlawanan Brigade Al-Qassam dan kubu resistensi terlihat jelas dalam konfrontasi dan menimbulkan kerugian besar pada musuh, yang terakhir terjadi pada Shuja’iyya dan Jabalia.”
Dia menambahkan, “Pertempuran Badai Al-Aqsa memberikan pukulan telak terhadap rezim pendudukan, dan mengguncang entitas serta para petinggi militer dan politiknya.”
Terkait solidaritas dan gerakan kerakyatan melawan agresi Israel terhadap Gaza, Haniyeh berterima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung penghentian agresi tersebut dan menuntut pencabutan blokade Jalur Gaza dari luar Palestina.
Haniyeh mengapresiasi sikap Sekjen PBB Antonio Guterres atas pesannya kepada Dewan Keamanan PBB, yang menyambut baik resolusi Majelis Umum PBB pada Selasa lalu. Resolusi ini menyerukan gencatan senjata secepatnya di Jalur Gaza, yang telah menjadi sasaran agresi Israel selama lebih dari 65 hari.
Haniyeh juga menekankan bahwa setiap pertaruhan mengenai pengaturan di Gaza atau masalah Palestina tanpa Hamas atau kubu resistensi adalah ilusi dan fatamorgana belaka.
Israel masih melanjutkan agresinya di Jalur Gaza sembari terus memblokadenya sehingga semua kebutuhan hidup mengalami krisis, dan semua fasilitas vital telah dihancurkan oleh serangan brutal Israel, yang sejauh ini telah mengakibatkan kematian lebih dari 18.600 warga Palestina, dan terlukanya lebih dari 50.000 orang. (mm/almayadeen)
Baca juga: