Teheran, LiputanIslam.com – Petinggi Hamas Osama Hamdan menyebut ancaman entitas Israel untuk melanjutkan agresi segera setelah gencatan senjata sementara sebagai gertakan yang hanya layak dikonsumsi oleh orang Israel sendiri.
Dalam konferensi pers yang diadakan di Beirut, Selasa (28/11), Hamdan mengatakan bahwa gugurnya sejumlah komandan Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, “tidak akan mengganggu gerakan resistensi yang justru akan meningkat di semua arena di dalam negeri dan luar negeri”.
“Pengakuan entitas pendudukan (Israel) mengenai jumlah tentaranya yang terbunuh dan terluka dalam operasi darat tidak mengungkapkan kebenaran yang mereka takutkan untuk dipublikasikan. Kerugian rezim pendudukan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang, dan tentara Israel belum siap menginjakkan kaki di 80% tanah Gaza,” ungkapnya.
Hamdan menambahkan, “Ancaman Israel tidak ada artinya, dan rezim pendudukan tahu bahwa apa yang akan terjadi lebih besar, dan ada sekitar seribu tentara Israel yang terluka di Gaza, 200 di antaranya parah.”
Dia menilai penyerahan tahanan Israel yang dilakukan Brigade Qassam di berbagai tempat di Jalur Gaza menepis klaim bahwa tentara Israel menguasai sebagian Jalur Gaza, dan pelaksanaan perjanjian gencatan senjata dalam empat hari merupakan pencapaian nasional yang luar biasa , karena mencakup tawanan dari seluruh wilayah Palestina.
“Pendirian kami akan tetap teguh dalam menolak semua rencana yang bertujuan mencari solusi atau memaksakan agenda mencurigakan,” imbuhnya.
Hamdan menjelaskan bahwa pasukan pendudukan menjatuhkan lebih dari 40.000 ton bahan peledak di Gaza selama 50 hari agresi, dan bahwa obsesi Israel untuk menjadikan Gaza sebagai tanah yang tidak dapat dihuni tidak akan tercapai.
Menyinggung KTT Luar Biasa OKI di Riyadh, Arab Saudi, beberapa waktu lalu, Hamdan mengatakan, “Kami menyerukan kepada para pemimpin negara Arab dan Islam untuk menerjemahkan keputusan KTT Riyadh ke dalam kenyataan praktis yang akan menghentikan agresi. Kami menyerukan peningkatan jumlah truk yang memasuki Jalur Gaza, dan mengirimkan lebih banyak bantuan medis ke rumah sakit di Jalur Gaza dan menerima korban luka di luar negeri. Kami menyerukan kepada negara-negara di dunia untuk mengirimkan tim pertahanan sipil untuk mengangkat puing-puing dan penanganan jenazah para syuhada.”
Hamdan mengecam laporan Human Rights Watch mengenai agresi Israel terhadap rumah sakit di Jalur Gaza, khususnya rumah sakit Baptis. Dia menilai laporan organisasi tersebut menggunakan bahasa spekulatif, dan karena itu dia menyerukan penarikan organisasi itu dari Gaza untuk kemudian dibentuk komite investigasi internasional atas apa yang terjadi di Gaza.
Hamdan meminta Presiden AS Joe Biden untuk meminta maaf kepada bangsa Palestina dan rakyat AS yang menentang sikap pemerintahan Biden. Namun, menurutnya, permintaan maaf itu tidak akan berarti jika tidak dibarengi dengan keputusan tegas yang akan memaksa entitas Israel untuk menghentikan agresinya terhadap Gaza.
“Pada Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina besok, kami menyerukan kelanjutan gerakan menolak perang genosida terhadap rakyat kami. Kami juga menyerukan kepada media internasional untuk mengunjungi Gaza untuk melihat sejauh mana kejahatan rezim pendudukan,” ungkapnya.
Osama Hamdan juga menegaskan bahwa Israel hanya memahami bahasa kekerasan, dan karena itu seandainya tidak ada tawanan Israel di tangan para pejuang resistensi maka tidak akan ada tawanan Palestina yang dibebaskan oleh Israel. (mm/alalam)
Baca juga: