Johannesburg, LiputanIslam.com – Para pemimpin negara-negara berkembang menyerukan diakhirinya perang Israel di Gaza demi meringankan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.
Dalam pertemuan puncak virtual yang dipimpin oleh Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Selasa (21/11), BRICS mengutuk serangan terhadap warga sipil di Palestina dan Israel, dan banyak pemimpin negara-negara anggotanya menyebut pemindahan paksa warga Palestina, di dalam atau di luar Gaza, sebagai “kejahatan perang.”
“Kami mengutuk segala bentuk pemindahan paksa dan deportasi warga Palestina dari tanah mereka sendiri secara individu atau massal,” bunyi pernyataan ringkas ketua pertemuan BRICS.
Kelompok tersebut, yang tidak mengeluarkan deklarasi bersama, juga “menegaskan kembali bahwa pemindahan paksa dan deportasi warga Palestina, baik di Gaza atau ke negara-negara tetangga, merupakan pelanggaran berat terhadap konvensi Jenewa dan kejahatan perang serta pelanggaran berdasarkan Hukum Humaniter Internasional.”
BRICS terdiri atas Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, yang merupakan negara-negara berkembang yang ingin memberikan suara lebih besar dalam tatanan global yang telah lama didominasi oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutu Baratnya. Negara-negara ini sering dipandang sebagai pemimpin dari apa dalam kebijakan internasional yang disebut sebagai “Global Selatan”.
Namun bukan hanya lima negara ini yang berbicara mengenai perang pada hari Selasa. Awal tahun ini, BRICS telah sepakat untuk memperluas dan menambahkan Iran, Mesir, Ethiopia, Argentina, Arab Saudi, dan UEA sebagai anggota sejak tahun 2024.
Para pemimpin keenam negara ini juga berpartisipasi dalam pertemuan yang diserukan oleh Afrika Selatan. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga bergabung dalam pertemuan puncak tersebut.
Pernyataan ketua yang notabene inti dari suasana pertemuan menyoroti seruan yang semakin meningkat dari negara-negara Selatan untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza.
Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dalam pertemuan itu mendesak negara-negara BRICS agar menetapkan rezim Israel sebagai entitas teroris karena kejahatan besarnya di Jalur Gaza dalam beberapa minggu terakhir.
“Rezim palsu ini harus diakui sebagai rezim teroris dan tentaranya dianggap sebagai organisasi teroris,” kata Raisi.
Permohonan tersebut merupakan bagian dari tujuh proposal yang diajukan oleh presiden Iran pada pertemuan puncak virtual BRICS virtual yang diadakan di kantor pusat organisasi ini di Afrika Selatan.
Dia juga mengatakan bahwa anggota BRICS harus membantu melakukan penyelidikan terhadap penggunaan senjata terlarang oleh Israel dalam perang Gaza, termasuk penggunaan bom fosfor putih terhadap penduduk sipil yang tinggal di wilayah tersebut.
Presiden Iran meminta anggota blok tersebut mengakui hak bangsa Palestina untuk membela diri melawan agresi Israel serta perjuangannya untuk membebaskan tanah yang diduduki rezim Israel selama beberapa dekade terakhir.
Dia juga mengatakan Iran akan mendukung langkah beberapa negara BRICS untuk mengajukan pengaduan terhadap Israel di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) atas kejahatan yang dilakukannya di Gaza. (mm/aljazeera/presstv)
Baca juga: