Beirut, LiputanIslam.com – Media Israel melaporkan bahwa tentara Israel , IDF, sekarang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan manuver darat di perbatasan utara.
Media Israel pada hari Ahad (12/11) melaporkan bahwa efektivitas serangan Angkatan Udara Israel terhadap kelompok anti-tank Hizbullah menurun, dan bahwa “kewaspadaan sekarang di wilayah utara lebih besar daripada kewaspadaan di selatan.”
Disebutkan pula bahwa Israel “berada dalam keadaan bertahan di utara, di mana kita menerima serangan dan cedera,” sementara Hizbullah telah mengetahui cara “bertahan, dan mempelajari teknik angkatan udara.”
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, pada Sabtu lalu mengatakan bahwa sebagian besar pasukan Angkatan Udara Israel dialokasikan ke Lebanon, dan bukan ke Jalur Gaza.
Sementara itu, mantan kepala badan keamanan dan politik di Kementerian Keamanan Israel, Zohar Palti, mengatakan, “Israel berada dalam konfrontasi yang sangat serius di utara.”
Media Israel belakangan ini banyak membicarakan adanya kekhawatiran Israel terhadap Hizbullah di front utara, dan menekankan bahwa front ini merupakan “tantangan besar” .
Pemimpin Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, menegaskan dalam pidatonya pada hari Sabtu bahwa front Lebanon selatan akan tetap menjadi front tekanan terhadap Israel, dan menekankan bahwa kebijakan Hizbullah dalam pertempuran saat ini adalah “ lapangan, yang bertindak dan berbicara.”
Beberapa hari yang lalu, Saluran 12 Israel mengkonfirmasi bahwa kemampuan rudal Hizbullah merupakan ancaman terbesar bagi Israel, selain kehadiran Pasukan Ridwan serta kualitas dan kesiapan para pejuang Hizbullah, sehingga menyerukan perhatian mengenai hal tersebut di perbatasan utara Israel.
Media Israel sebelumnya mengatakan bahwa Hizbullah “memiliki inisiatif di utara,” dan tentara Israel “kebingungan dan sepanjang waktu dalam posisi siap membalas”.
Media Israel menyebutkan bahwa Hizbullah “memiliki kemampuan untuk menjangkau jauh ke dalam wilayah Israel, jika mereka menginginkannya.” (mm/almayadeen)