Gaza, LiputanIslam.com – Serangan udara Israel terhadap kamp pengungsi Jabaliya di Jalur Gaza, Selasa (31/11), menjatuhkan ratusan korban gugur dan luka, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan jumlah korban gugur pada hari itu. Kementerian Dalam Negeri Palestina juga mengatakan serangan itu telah menjatuhkan korban gugur dan luka sedikitnya 400 orang.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Iyad al-Bazum, menyebutkan bahwa bom buatan AS telah menyasar rumah-rumah hingga menyebabkan pembantaian banyak orang dan kehancuran suatu komplek perumahan.
“Bangunan-bangunan ini menampung ratusan warga. Angkatan udara rezim pendudukan menghancurkan distrik ini dengan enam bom buatan AS. Ini adalah pembantaian terbaru yang disebabkan oleh agresi Israel di Jalur Gaza,” katanya, seraya menyerukan kepada masyarakat internasional “untuk segera bertindak menghentikan Israel sebelum terlambat.”
Rekaman video dari kamp itu memperlihatkan bangunan-bangunan yang rata dengan tanah, dan warga Palestina yang panik terlihat membawa anak-anak yang terluka menjauh dari lokasi kejadian atau mencari korban yang selamat.
Pada tanggal 7 Oktober, Hamas melancarkan operasi terbesarnya , yang disebut Operasi Badai Al-Aqsa, terhadap Israel sebagai tanggapan atas kejahatan intensif rezim pendudukan terhadap rakyat Palestina.
Pembantaian Israel yang sedang berlangsung telah menggugurkan 8.610 warga Palestina dan menyebabkan lebih dari 23.000 orang terluka, menurut angka yang diumumkan pada hari Selasa oleh Kementerian Kesehatan dalam laporan hariannya mengenai situasi di wilayah pendudukan. Angka tersebut belum termasuk korban jiwa akibat serangan Israel di Jabaliya.
Selain pemboman yang tiada henti, Tel Aviv juga memblokir pasokan air, makanan, dan listrik ke Gaza, sehingga membuat wilayah yang terkepung itu mengalami krisis kemanusiaan.
Pada hari Jumat, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang menyerukan penerapan “gencatan senjata kemanusiaan” segera di Gaza.
Pemungutan suara di Majelis Umum dilakukan setelah Dewan Keamanan PBB empat kali gagal mengambil tindakan karena AS berulang kali menjatuhkan veto terhadap resolusi-resolusi terkait. (mm/presstv)
Baca juga: