LiputanIslam.com -Narasi lain yang sangat sering kita dengar dan kita baca dari kubu pendukung Israel adalah sebagai berikut.
“Warga sipil Palestina itu mestinya melawan HAMAS, karena mereka menjadi korban serangan balasan Israel gara-gara HAMAS menyerang Israel. Jadi, ketika warga sipil Palestina ikut menjadi korban, itu adalah salah mereka. Siapa suruh mendukung HAMAS? Jangan pernah salahkan Israel.”
Ini juga menjadi salah satu falasi “non-causa pro-causa”, di mana kubu Zionis menjadikan sesuatu yang sebenarnya “bukan sebab utama” sebagai “sebab utama”. Pada narasi di atas, serangan tentara Israel ke Gaza murni sebagai akibat dan reaksi atas sebuah sebab. Apa yang menjadi sebabnya? Ya, tak lain adalah aksi para pejuang HAMAS itu. Menurut mereka, apa yang dilakukan tentara Zionis tak lain sebagai tindakan pembalasan. Logika publik dihalau agar tak bertanya soal penyebab dari aksi-aksi para pejuang Palestina itu.
Jika kita memperhatikan berbagai kasus tindakan buruk yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat, kita akan menemukan bahwa narasi dengan pola “non-causa pro-causa” ini adalah falasi yang standar, dan menjadi semacam SOP (Standard Operating Procedure). Perilaku kejam polisi negara tertentu dalam menghadapi demo-demo anti pemerintah, misalnya, akan selalu di-justifikasi dengan menunjukkan adanya aksi-aksi pendemo yang disebut melakukan anarki.
Dulu pun, tentara penjajah Indonesia selalu menyalahkan pejuang kemerdekaan. Mereka juga menuntut rakyat Indonesia untuk tak lagi mendukung para pejuang, jika tak ingin ikut menjadi korban aksi-aksi balasan dari serdadu penjajah. Bahkan, dalam sejumlah kasus, terjadi peristiwa di mana ada rakyat pribumi yang berkhianat dengan cara melawan para pejuang itu sendiri, dengan alasan bahwa aksi-aksi para pejuang itu mengakibatkan “kesengsaraan” pada rakyat sipil.
Pokoknya, jangan pernah menyalahkan penjajah. Kalau ada korban sipil, yang salah adalah para pejuang kemerdekaan. Itulah yang terjadi sepanjang masa, dan itulah pula yang saat ini sedang terjadi di Palestina. (os/liputanislam)