Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan jika kejahatan rezim Israel di Jalur Gaza terus berlanjut dan tidak ada solusi politik yang ditemukan maka tindakan preemptive akan segera diambil oleh faksi-faksi resistensi.
“Selama perjalanan regional dan pertemuan saya dengan para pemimpin front resistensi, mereka percaya bahwa sebuah kesempatan harus diberikan pada solusi politik,” katanya dalam wawancara yang disiarkan televisi, Senin (16/10), usai safari ke Irak, Lebanon, Suriah, dan Qatar.
“Namun, jika kejahatan perang rezim Israel terhadap warga sipil terus berlanjut, kemungkinan apa pun mungkin terjadi,” sambungnya.
Rezim Israel mengerahkan 300.000 tentara cadangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menyatakan perang “panjang” di Gaza sebagai respons terhadap Operasi Badai al-Aqsa.
Operasi tersebut diluncurkan oleh gerakan perlawanan Palestina yang berbasis di Gaza pada Sabtu lalu sebagai tanggapan terhadap kampanye pertumpahan darah dan penghancuran yang dilakukan Rezim Zionis Israel selama puluhan tahun terhadap warga Palestina.
Sejauh ini, sudah lebih dari 2.800 warga Palestina gugur dan hampir 11.000 lainnya terluka akibat serangan biadab Israel di Gaza.
Menlu Iran menyatakan bahwa semua skenario terbuka untuk kubu resistensi, termasuk gerakan Hizbullah Lebanon, dan mereka telah melakukan semua pertimbangan dan perhitungan secara cermat.
“Para pemimpin kubu resistensi tidak akan membiarkan Rezim Zionis melakukan apapun yang mereka inginkan di kawasan ini. Segala tindakan pencegahan dapat dilakukan dalam beberapa jam mendatang,” tegasnya.
“Jika kita tidak membela Gaza hari ini, kita harus mempertahankan kota-kota kita sendiri,” lanjutnya, mengutip pernyataan pemimpin Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah bahwa jika gerakan yang berbasis di Lebanon tidak melakukan tindakan pencegahan terhadap Israel maka “besok, kita harus melawan pasukan Zionis di Beirut.”
Dia juga mengatakan, “Masalah yang dihadapi adalah apa yang terjadi (di wilayah pendudukan) berupa ‘gempa’ yang terjadi di rezim Zionis,” kata Amir-Abdollahian, mengacu pada Operasi Badai al-Aqsa, yang telah menyebabkan sekitar 1.200 orang Israel tewas dan hampir 200 lainnya ditawan.
Amir-Abdollahian kemudian menyebutkan ihwal diskusi dia sebelumnya dengan beberapa rekannya dari negara-negara Muslim.
“Kami telah mencapai kesimpulan bahwa jika kemungkinan-kemungkinan terbatas dan sempit yang tersedia bagi PBB tidak dimanfaatkan maka kemungkinan membuka front baru melawan rezim (Israel)tidak dapat dihindari,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa perang besar-besaran melawan Israel tidak dapat dihindari. Israel melalui kubu resistensi “akan mengubah peta geografis rezim pendudukan al-Quds.”
Menlu Iran juga mengecam Amerika Serikat karena mendesak kubu resistensi untuk menahan diri dalam perang yang sedang berlangsung di Gaza, tapi di saat yang sama juga mendukung rezim Israel.
“Kami telah dengan jelas mengatakan kepada pihak Amerika, dan saya mengumumkan bahwa mereka tidak dapat meminta semua pihak untuk menahan diri, namun menawarkan dukungan penuh mereka kepada para penjahat Israel,” tegasnya.
Dia juga menandaskan, “Waktu bagi Amerika untuk mengirim pesan-pesan seperti itu akan segera berakhir. Saya memperingatkan Anda untuk (lebih baik) menghentikan pertumpahan darah terhadap perempuan dan anak-anak (di Gaza) daripada mengirimkan pesan-pesan munafik.” (mm/presstv)
Baca juga: