Homs, LiputanIslam.com – Sedikitnya 80 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan drone kawanan teroris terhadap akademi militer di kota Homs, Suriah barat, Kamis (5/10).
Menteri Kesehatan Suriah Hassan al-Ghabash mengumumkan, “Delapan puluh orang, termasuk enam anak-anak dan enam wanita, gugur dan 240 orang terluka akibat aksi teroris ini.”
Namun demikian, laporan lain menyebutkan bahwa Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mencatat sedikitnya 112 orang tewas.
Serangan itu menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap fasilitas militer Suriah, dan itu terjadi beberapa menit setelah Menteri Pertahanan Suriah meninggalkan upacara wisuda tersebut.
Menteri Luar Negeri Suriah Faisal al-Maqdad dalam percakapan telepon dengan sejawatnya dari Iran, Hossein Amir-Abdollahian, menyatakan serangan itu dilakukan oleh kelompok teroris yang disponsori oleh AS.
Tentara Suriah menyatakan beberapa drone telah menyerang upacara wisuda yang dihadiri oleh keluarga taruna, sementara pemerintah mengumumkan keadaan berkabung selama tiga hari sejak Jumat (6/10).
Angkatan bersenjata Suriah menyebut serangan demikian “belum pernah terjadi sebelumnya,” dan dilakukan dengan menggunakan drone berbahan peledak.
Tentara Suriah bersumpah akan merespons “dengan kekuatan dan tekad penuh, serta memperingatkan bahwa mereka yang merencanakan dan melaksanakan serangan tersebut akan menanggung akibat yang sangat besar.”
Kementerian Pertahanan Suriah menyatakan, “Ada puluhan tentara yang terluka, dengan luka kritis di antara keluarga yang diundang, termasuk perempuan dan anak-anak, selain sejumlah mahasiswa yang berpartisipasi dalam wisuda tersebut.”
Kementerian itu menambahkan, “Organisasi teroris yang didukung oleh pihak internasional terkenal” telah melakukan serangan tersebut.
Belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Kementerian Luar Negeri Suriah menyerukan kecaman Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap serangan teror tersebut.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan sangat prihatin atas serangan itu sekaligus atas serangan balasan yang dilakukan oleh pasukan pro-pemerintah.
“Sekretaris Jenderal mengutuk keras semua kekerasan di Suriah dan mendesak semua pihak untuk menghormati kewajiban mereka berdasarkan hukum internasional,” kata Stephane Dujarric kepada wartawan.
Serangan teror itu dilakukan dari wilayah barat laut Homs, dan terjadi satu hari setelah tentara Suriah melancarkan serangkaian operasi militer terhadap pangkalan teroris dan gudang senjata di barat laut Provinsi Idlib.
Menurut Kementerian Pertahanan Suriah, puluhan teroris, termasuk beberapa komandan tingkat tinggi, tewas dalam operasi tersebut. (mm/fna/alalam)
Baca juga: