
Manama, LiputanIslam.com – Komando militer Bahrain menuduh pasukan Ansarullah (Houthi) Yaman membunuh dua tentara Bahrain dalam serangan drone di perbatasan selatan Arab Saudi dengan Yaman.
Sejumlah tentara Bahrain juga terluka dalam serangan itu, kata militer Bahrain dalam sebuah pernyataan, yang disiarkan oleh kantor berita resmi Bahrain, Senin (26/9). Jumlah pasti tentara yang terluka tidak diumumkan.
“Serangan teroris ini dilakukan oleh Houthi, yang mengirimkan pesawat yang menyasar posisi penjaga Bahrain di perbatasan selatan kerajaan Arab Saudi meskipun operasi militer antara pihak yang bertikai di Yaman dihentikan,” bunyi klaim militer Bahrain.
Bahrain adalah sekutu dekat Arab Saudi, yang turut memerangi Ansarullah di Yaman selama beberapa tahun.
Pihak Ansarullah tidak segera mengakui serangan tersebut. Media dan operasi media sosial yang dijalankan oleh Ansarullah juga tidak menyebutkan adanya serangan tersebut.
Perunding Ansarullah pada awal bulan ini mengadakan pembicaraan dengan pejabat Arab Saudi untuk membuka kemungkinan perjanjian untuk mengakhiri konflik di Yaman. Tidak jelas apakah serangan drone dan tewasnya tentara Bahrain itu akan menggagalkan ataupun mengusik perundingan damai.
Koalisi yang dipimpin Arab Saudi memperingatkan Ansarullah bahwa “tindakan bermusuhan dan provokatif yang berulang-ulang seperti itu tidak sejalan dengan upaya positif yang dilakukan untuk mengakhiri krisis dan mencapai solusi politik yang komprehensif”.
Pada 21 September lalu Ansarullah menggelar parade militer secara besar-besaran antara lain dengan memperlihatkan rudal balistik dan drone bersenjata di Sanaa, ibu kota Yaman.
Mobil lapis baja, rudal dan ribuan prajurit berseragam berparade untuk unjuk kekuatan di hadapan para pejabat pemerintah Sanaa.
Pada kesempatan itu, Menteri Pertahanan Mohammed al-Atifi dalam kata sambutannya menegaskan, “Kami mengulangi peringatan kami kepada pasukan asing bahwa kami tidak akan menerima kehadiran mereka di wilayah kami, mereka harus pergi atau mereka akan menghadapi gelombang kemarahan Yaman.”
Dalam sebuah pernyataan saat itu, Ansarullah menyuarakan kesiapannya untuk berperang lagi demi membela tanah air.
“Rakyat kami percaya bahwa perdamaian hanya akan tercapai dengan menerapkan upaya pencegahan militer yang memaksa musuh untuk tunduk pada semua tuntutan yang sah dan adil,” bunyi pernyataan itu.
Ansarullah menambahkan, “Kami akan melipatgandakan tingkat kesiapan tempur kami selama beberapa minggu dan bulan ke depan sebagai bagian dari respons praktis dan bertanggung jawab untuk menghadapi perkembangan apa pun dengan tegas.” (mm/aljazeera/presstv)
Baca juga: