Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyesalkan kehadiran pasukan trans-regional di kawasan Timur Tengah, dan mengatakan bahwa Washington dan sekutunya sangat marah atas eksistensi moral Iran di kawasan ini.
Dalam pertemuan dengan sejumlah veteran perang di Teheran pada hari Rabu (20/9), Ayatullah Khamenei mula-mula menyebutkan bahwa perang “Pertahanan Suci” selama delapan tahun melawan agresi Irak di era diktator mendiang Saddam Hussein merupakan momen yang spektakuler dalam sejarahIran.
“Kita harus menyadari momen dan peristiwa penting ini, dan memperkenalkannya kepada generasi mendatang,” tegas Pemimpin.
“Jika generasi penerus kita mengetahui aspek-aspek penting dan bermakna dari Pertahanan Suci dan mengetahui bagaimana bangsa Iran mampu mencapai kemenangan dan berdiri di sana dengan kekuatan, maka akan ada pelajaran besar bagi mereka dalam pemahaman ini dan tugas-tugas besar akan tercapai,” tuturnya.
Ayatullah Khamenei menyebutkan bahwa tahun-tahun setelah Revolusi Islam 1979 adalah masa yang sangat kritis karena semua negara besar di dunia, termasuk Amerika Serikat, negara-negara Eropa dan Timur berpartisipasi dengan rezim Saddam dalam agresi terhadap Iran.
Dia menegaskan bahwa seluruh dunia kala itu membeking agresi Saddam selama delapan tahun untuk menerjang perbatasan Iran, namun” tidak satu inci pun tanah negara republik Islam ini hilang”.
“Bangsa Iran menemukan kehebatan kemampuannya dalam Pertahanan Suci. Bangsa Iran mengakui dirinya dalam Pertahanan Suci,” pujinya.
Dia menjelaskan bahwa mengamankan negara adalah salah satu pencapaian Pertahanan Suci, yang terbukti sangat efektif menjaga negara ini dari kemungkinan agresi di masa depan.
“Hal ini menunjukkan bahwa jika musuh memulai serangan, maka mereka bukanlah pihak yang dapat menghentikannya,” tandas Ayatullah Khamenei.
Pertahanan suci, imbuhnya, juga memperluas perbatasan Iran.
“Yang saya maksud bukan batas geografis dan kami tidak mengincarnya, melainkan memperluas perbatasan lain, termasuk perbatasan resistensi,” terangnya.
Dia menjelaskan bahwa elemen resistensi sekarang sudah mengakar di kawasan Timur Tengah, yang dia sebut Asia Barat, dan bahwa Pertahanan Suci juga memperkenalkan, mempromosikan dan menjadikan istilah resistensi (muqamawah) di dunia kini menjadi jargon yang sudah dikenal khalayak luas.
“Mungkin sulit bagi kita untuk mempercayainya, namun tindakan bangsa Iran telah berdampak pada negara-negara yang jauh. Kami tahu tentang ini. Baik di Asia Timur, Afrika, dan Amerika Latin, tindakan bangsa Iran menjadi teladan,” ujarnya.
Pemimpin Besar Iran memastikan pengaruh Iran membuat AS tidak nyaman.
Dia menegaskan, “Masalah kehadiran moral Iran di kawasan telah menimbulkan kekesalan Amerika dan beberapa negara, padahal kita tidak memiliki basis di negara-negara kawasan sekitar kecuali kehadiran moral.” (mm/fna)
Baca juga: