EinAl-Hilweh, LiputanIslam.com – Sedikitnya 10 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka dalam bentrokan baru antarkelompok Palestina yang bersaing di kamp Ein Al-Hilweh, Lebanon selatan, selama beberapa hari terakhir. Hizbullah dan Hamas rilis pernyataan tajam.
Setelah gencatan senjata yang rapuh selama sebulan, kekerasan kembali pecah pada hari Kamis lalu antara anggota afiliasi gerakan Fatah dan kelompok bersenjata lain di kamp pengungsi Ain al-Hilweh di kota Sidon, Lebanon selatan.
Bentrokan sengit berlanjut untuk hari kelima pada hari Senin (11/9) dengan menggunakan senapan mesin dan granat berpeluncur roket.
Sumber-sumber Palestina di kamp tersebut, yang dikutip oleh media lokal, menyatakan kekerasan sejauh ini telah merenggut nyawa sedikitnya 10 orang dari kedua belah pihak. Enam di antaranya berasal dari Fatah dan dua lainnya adalah militan bersenjata.
Dua korban lainnya adalah warga sipil, kata sumber keamanan Lebanon dan dua sumber Palestina. Seorang juga tewas pada hari Sabtu ketika peluru nyasar dari bentrokan mencapai sebuah kota dekat kamp tersebut, kata sumber keamanan Lebanon.
Lima tentara Lebanon juga dilaporkan terluka, salah satunya kritis, ketika penembakan menghantam tiga posisi mereka di pinggiran kamp pada hari Minggu, sehingga menambah jumlah korban luka menjadi 86 orang dalam bentrokan baru antara kelompok-kelompok yang bersaing di kamp tersebut.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin, kantor pers Hamas menolak laporan yang mengklaim bahwa pihaknya bersama dengan Hizbullah Lebanon dan gerakan Jihad Islam Palestina mendukung orang-orang bersenjata yang bertempur di kamp pengungsi Ain al-Hilweh.
“Kami menolak klaim-klaim kosong dan palsu yang bertentangan dengan kebijakan dan keyakinan kami, dan kami menganggapnya sebagai upaya bermotif baru untuk mendistorsi citra gerakan Hamas dan perlawanan Palestina,” bunyi pernyataan itu.
“Sejak hari pertama terjadinya insiden, kami telah bekerja dengan semua faksi dan pasukan Palestina dan Lebanon, selain aparat keamanan Lebanon dan duta besar Palestina untuk Lebanon, untuk gencatan senjata dan menjaga kamp, penduduknya, dan lingkungan Lebanon,” imbuhnya.
Hizbullah sendiri menyerukan penghentian kontak senjata sesegera mungkin, sembari memperingatkan bahwa konflik itu sangat merugikan pihak Palestina dan hanya menguntungkan musuh, Israel.
“Kami menegaskan dengan terus terang dan tanpa basa-basi kepada siapa pun bahwa kami menentang pertempuran ini, menolaknya secara total, dan menganggap bahwa satu-satunya pihak yang diuntungkan adalah musuh, Zionis (Israel), dan yang paling dirugikan olehnya adalah rakyat Palestina dan perjuangan utama mereka,” tegas Hizbullah.
Hizbullah menambahkan, “Pada saat para pejuang perlawanan Palestina di dalam negeri sedang melancarkan aksi terbesarnya untuk membebaskan tanah Palestina, di kamp Ain al-Hilweh malah terjadi pertempuran yang tak masuk akal, menghancurkan manusia dan batu, memperdalam tragedi, dan sangat merugikan persatuan dan masa depan Palestina.”
Ain el-Hilweh, yang didirikan pada tahun 1948, adalah yang terbesar di antara 12 kamp pengungsi Palestina di Lebanon, yang menampung sekitar 80.000 hingga 250.000 pengungsi Palestina, menurut Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). (mm/alalm/presstv)
Baca juga: