Sanaa, LiputanIslam.com – Gerakan Ansarulah Yaman memperingatkan risiko perang “terpanjang” dan “termahal” dalam sejarah jika kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) sampai mendekati perairan teritorial negara Arab itu.
“Demi kepentingan perdamaian dan keamanan internasional dan pelestarian keselamatan navigasi di Laut Merah, pasukan Amerika harus menjauh dari perairan teritorial kami,” tegas wakil menteri luar negeri di Pemerintah Penyelamatan Nasional Yaman, Hussein al-Ezzi, di Twitter, Selasa (8/8).
Al-Ezzi beralasan bahwa mendekati perairan itu bisa berarti awal dari pertempuran terpanjang dan termahal dalam sejarah manusia.
Peringatan itu dinyatakan beberapa jam setelah Armada Kelima AS mengumumkan bahwa lebih dari 3.000 personel militer AS telah tiba di Laut Merah dengan dua kapal perang.
Pernyataan dari komando yang berbasis di Bahrain menambahkan bahwa mereka tiba di atas kapal perang USS Bataan dan USS Carter Hall setelah transit melalui Terusan Suez dalam pengerahan pasukan yang telah diumumkan sebelumnya.
Menteri Pertahanan Yaman Meyjen Muhammad Nasser al-Atifi juga mengatakan pekan lalu bahwa kehadiran ilegal penyerbu di perairan teritorial Yaman akan sangat merugikan mereka.
“Kami cukup mampu mengamankan, melindungi, dan menstabilkan jalur pelayaran internasional di sepanjang perairan teritorial kami. Laut Merah, Teluk Aden, dan Selat Bab el-Mandeb adalah jalur pelayaran yang melayani dunia, dan kami berkomitmen untuk memastikan keamanannya.”
Dia menolak klaim Israel dan koalisi pimpinan Arab Saudi bahwa pengerahan pasukan lintas wilayah di kawasan yang tersebut akan mengamankan jalur air dari tindakan terorisme dan pembajakan.
“Apa yang dilakukan musuh dalam hal menduduki dan melakukan kontrol maritim yang agresif atas pelabuhan, pulau, dan perairan Yaman sama dengan terorisme itu sendiri. Perilaku mereka menunjukkan bahwa koalisi agresor (yang dipimpin Saudi) menghasilkan dan mensponsori elemen teroris dan bajak laut,” kata Atifi.
Dia juga menegaskan, “Kami akan menanggapi tantangan, eskalasi ketegangan, dan penembakan dengan cara yang sama. Kami akan menahan pendudukan melalui perlawanan dan merangkul perdamaian.” (mm/presstv)