Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi menyatakan negaranya melihat prospek pertumbuhan di berbagai sektor, terutama sains dan teknologi, meski mendapat intimidasi , sanksi dan hambatan dari negara-negara musuhnya.
Berbicara dalam upacara penutupan Festival Media Nasional Iran ke-21, Selasa (8/8), yang menandai Hari Jurnalis Nasional, Raisi menegaskan kembali pendirian Iran dalam negosiasi multilateral untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran
Dia mengatakan bahwa Iran berada di atas angin karena tidak pernah meninggalkan kesepakatan atau pembicaraan untuk menghidupkannya kembali setelah Amerika Serikat (AS) menarik diri dari perjanjian tersebut secara sepihak.
Meski demikian, Presiden Raisi melanjutkan, “Kami sama sekali tidak mempercayai mereka (AS) dan tidak akan pernah mempercayai mereka.”
Iran dan enam kekuatan besar dunia menandatangani kesepakatan nuklir, yang secara resmi disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), pada tahun 2015 untuk menyudahi kegaduhan terkait kegiatan nuklir Iran.
Namun, AS ternyata meninggalkan JCPOA pada tahun 2018 meskipun Teheran sepenuhnya mematuhi kewajiban nuklirnya. AS menerapkan kembali sanksi yang telah dicabut oleh kesepakatan itu. Upaya diplomatik multilateral, yang dimulai pada April 2021, sejauh ini gagal menghidupkan kembali kesepakatan tersebut.
Presiden Iran menegaskan bahwa pemerintahannya sedang mengejar kebijakan “menetralkan” sanksi saat menghadiri pembicaraan-pembicaraan yang bertujuan untuk mencabutnya.
“Kami mencapai tujuan itu dengan sekuat tenaga karena kami telah melihat pelanggaran janji mereka,” ungkapnya. (mm/mna)
Baca juga: