Beirut, LiputanIslam.com – Pemimpin kelompok pejuang Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menyerukan penghentian bentrokan mematikan yang telah berkecamuk selama berhari-hari antarafaksi Palestina yang bersaing di kamp pengungsi Ein el-Hilweh, Lebanon selatan.
Sedikitnya 11 orang tewas di kamp tersebut sejak pertempuran pecah pada Sabtu lalu antara faksi utama Fatah dan kelompok Junud al-Sham.
“Pertempuran ini tidak boleh berlanjut karena dampaknya buruk bagi penghuni kamp, bagi rakyat Palestina yang tercinta, bagi selatan, bagi seluruh Lebanon,” kata Hassan Nasrallah dalam pidato yang disiarkan di televisi, Selasa (1/8).
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa akibat kekerasan tersebut sekira dua ribu orang telah meninggalkan rumah mereka di kamp tersebut dan kegiatan UNRWA pun dihentikan.
Media lokal melaporkan bahwa lebih dari 40 orang, termasuk anak-anak, terluka di kamp dekat kota pelabuhan Sidon tersebut.
Mohammed Baba, seorang paramedis, mengatakan, “Sangat sulit untuk menjangkau korban luka dan sakit akibat pertempuran”.
Dia menambahkan, “Ada banyak rumah yang rusak dan hancur. Banyak anak-anak yang terjebak baku tembak.”
Negosiasi antarafaksi yang bersaing sempat menghentikan kontak senjata, namun kekerasan itu terjadi lagi pada hari Selasa.
Hizbullah, yang menguasai Libanon selatan dan getol melawan Israel, menjalin hubungan baik dengan semua faksi Palestina dan mendukung perjuangan mereka melawan Israel.
Nasrallah pada hari Selasa menegaskan bahwa siapa pun yang dapat “menekan, mengatakan sepatah kata pun, melakukan kontak, berusaha” untuk menerapkan gencatan senjata maka harus melakukannya.
Kekerasan pecah ketika seorang pria bersenjata tak dikenal berusaha membunuh seorang anggota kelompok bersenjata bernama Mahmoud Khalil, tetapi malah menembak dan membunuh rekannya.
Dalam konfrontasi yang terjadi kemudian, komandan Fatah Abu Ashraf al-Armouchi , yang bertanggung jawab atas keamanan di dalam kamp, dan beberapa ajudannya, tewas.
UNRWA memperkirakan ada sekira 250.000 pengungsi Palestina tinggal di 12 kamp Palestina yang didirikan di Lebanon pasca Tragedi Nakba 1948 di mana kaum Zionis mengusir orang-orang Palestina dari tanah dan kampung halaman mereka.
Ein el-Hilweh adalah kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon, dan padat penduduk, sebagaimana semua kamp lainnya.
Ein el-Hilweh menjadi tempat pertikaian sengit antarfaksi Palestina selama beberapa dekade, dan juga pernah terjadi pertempuran antara faksi-faksi itu dan tentara Lebanon.
Kamp-kamp tersebut sebagian besar terletak di luar yurisdiksi dinas keamanan Lebanon dan masalah keamanan internal diserahkan kepada faksi-faksi yang ada di dalamnya. (mm/aljazeera)
Baca juga:
Militer Zionis Sebut Hizbullah Provokatif, Kemungkinan Pecah Perang Sangat Tinggi
Netanyahu Minta Sekjen Hizbullah Tak Jajal Kemampuan Militer Israel