TelAviv, LiputanIslam.com – Para petinggi militer Israel memperkirakan kemungkinan akan pecahnya perang dengan Hizbullah Lebanon belakangan ini adalah yang tertinggi sejak 2006.
Surat kabar Yedioth Ahronoth, Senin (31/7) mengutip pernyataan pejabat keamanan dan perwira militer Israel yang tidak disebutkan namanya bahwa “risiko pecahnya perang dengan Hizbullah melintasi perbatasan utara adalah yang tertinggi sejak berakhirnya Perang Lebanon II pada tahun 2006.”
“Pejabat militer khawatir bahwa (Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayid Hassan) Nasrallah menyadari kelemahan Israel di tengah protes atas undang-undang peradilan, dan mungkin menguji kesabaran tentara meskipun ada risiko konflik habis-habisan,” ungkap salah seorang pejabat.
Dia menambahkan, “Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diberi pengarahan tentang kekhawatiran tersebut pada pertemuan yang diadakan untuk membahas meningkatnya ketegangan dengan organisasi yang didukung Iran.”
Badan Penyiaran Israel pada Ahad malam lalu melaporkan, “Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan sesi luar biasa malam ini (Minggu) untuk membahas ketegangan di perbatasan utara.”
Badan itu menambahkan, “Sidang tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Yoav Gallant, Kepala Staf Angkatan Darat Israel Herzi Halevy, Kepala Badan Keamanan Umum, Shin Bet, Ronen Bar, Kepala Mossad, David Barnea, Kepala Dewan Keamanan Nasional, Tzachi Hanegbi, dan para pejabat keamanan lainnya.”
Badan itu juga menyebutkan, “Ada laporan dari kantor Perdana Menteri bahwa dia telah membuat penilaian tentang situasi terkait peristiwa baru-baru ini di perbatasan dengan Lebanon. Dilaporkan bahwa dia menyetujui rekomendasi dan tindakan yang diusulkan oleh tentara dan aparat keamanan.”
Yedioth Ahronoth mengabarkan,“Pernyataan itu dapat dilihat sebagai mosi percaya perdana menteri terhadap pejabat keamanannya dan IDF, namun itu juga bisa menjadi caranya untuk menghindari tanggung jawab jika konflik tidak dapat dihindari.”
Yedioth Ahronoth juga menyebutkan, “Sejauh ini tentara Israel, terutama komandan tertinggi sektor utara, telah menangani provokasi terus-menerus Hizbullah, termasuk tenda-tenda yang didirikan oleh operasi Hizbullah di wilayah Israel, yang belum dipindahkan, demikian pula pelanggaran kedaulatan Israel yang telah melemahkan pencegahan Israel.”
Surat kabar itu menambahkan: “Meskipun ketegangan meningkat, pejabat intelijen militer masih percaya bahwa Nasrallah tidak tertarik untuk memulai perang. Hanya saja, untuk pertama kalinya dalam 17 tahun, dia siap menguji kesabaran Israel dan, jika perlu, terlibat dalam putaran perang yang bisa berlangsung berhari-hari dan mudah lepas kendali.” (mm/raialyoum)
Baca juga: