Damaskus, LiputanIslam.com – Perdana Menteri Irak Muhammad Shia al-Sudani telah mengadakan pembicaraan dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad di Damaskus dalam kunjungan pertama ke Suriah selama negara ini dilanda konflik sejak 12 tahun silam.
Irak dan Suriah telah mempertahankan hubungan dekat selama bertahun-tahun, bahkan setelah banyak negara Arab menarik duta besar mereka dari Damaskus dan keanggotaan Suriah di Liga Arab yang beranggotakan 22 negara ditangguhkan pada tahun 2011.
Al-Sudani menyerukan peningkatan kerja sama dengan Suriah untuk mengatasi tantangan bersama, dan menekankan bahwa keamanan dan stabilitas kedua negara adalah dua faktor yang memupuk persatuan.
Dia menyerukan demikian dalam konferensi pers bersama dengan al-Assad di Damaskus, Ahad (16/7), setelah keduanya mengadakan pembicaraan yang bertujuan untuk mengamankan perbatasan bersama dan memperkuat hubungan ekonomi.
“Irak dan Suriah terikat satu sama lain dan memiliki hubungan yang sama. Untuk menghadapi tantangan yang dihadapi Irak dan Suriah, koordinasi harus dilakukan,” katanya.
“Kunci keamanan dan stabilitas kawasan adalah situasi ekonomi yang baik. Angkatan bersenjata (kami) berdiri kokoh melawan teroris. Kami dan Suriah menghadapi tantangan bersama,” tambahnya.
Al-Sudani juga menyebutkan bahwa Irak dan Suriah menghadapi tantangan kekurangan air, dan menekankan bahwa kedua belah pihak harus bekerja sama untuk mengamankan hak air mereka secara adil.
“Tantangan besarnya adalah bahwa sebagian besar hak air yang dimiliki Suriah dan Irak di Sungai Tigris dicuri dari mereka,” katanya, menyindir pembangunan bendungan di hulu oleh Turki.
Perdana Menteri Irak lebih lanjut menyatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan kerja sama untuk memberantas penyelundupan narkoba.
Dia juga mengatakan Irak mendukung pencabutan sanksi terhadap Suriah, yang telah diberlakukan oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sejak 2011, seraya menyebutkan bahwa pintunya terbuka untuk investor.
Al-Sudani menegaskan kembali komitmen negaranya untuk perjuangan Palestina, dengan mengatakan bahwa posisi Baghdad terhadap perjuangan tersebut tegas dan menolak pendudukan Israel.
Perdana menteri Irak juga mengutuk serangan udara Israel terhadap Suriah.
“Kami menekankan posisi teguh kami dalam menolak dan menentang setiap pendudukan Israel di tanah Arab mana pun. Kami juga menegaskan kembali penolakan kami atas setiap serangan Israel di Suriah dan Libanon,” tegasnya.
Al-Sudani tiba di Damaskus pada hari Ahad untuk kunjungan resmi dua hari, yang menjadi perjalanan pertama oleh seorang perdana menteri Irak sejak pecahnya konflik Suriah pada tahun 2011. Dia diterima oleh Assad di istana presiden di Damaskus.
Pada konferensi pers itu, Al-Assad memuji pasukan relawan Irak Al-Hashd al-Sha’abi atas perjuangan mereka melawan terorisme.
“Irak berdiri di samping Suriah selama perang melawan terorisme dan menolak semua pembenaran dari agresor terhadap Suriah,” katanya.
Dia juga mengaku telah berbicara dengan Al-Sudani tentang situasi negara-negara Arab dan tantangan di kawasan Timur Tengah. (mm/presstv/aljazeera)