Islamabad, LiputanIslam.com – Iran menyatakan mendukung ” sepenuh hati” inisiatif pemerintah Pakistan untuk menetapkan 7 Juli sebagai “Hari Penghormatan Al-Qur’an”, menyusul peristiwa penistaan kitab suci umat Islam ini di Swedia.
“Keputusan pemerintah Republik Islam Pakistan yang terhormat untuk memperkenalkan dan merayakan 7 Juli 2023 sebagai Hari Penghormatan Al-Qur’an adalah inisiatif yang layak, pantas dan relevan,” ungkap Kedutaan Besar (Kedubes) Republik Islam Iran di Islamabad dalam sebuah pernyataan, Jumat (7/7).
Pernyataan tersebut menekankan bahwa menodai Al-Qur’an, atau menghina simbol suci agama samawi, adalah tindakan tercela, bodoh, dan bias yang bertujuan menghasut opini publik dan mempromosikan penyalahgunaan kebebasan ekspresi.
“Sangat penting untuk mengakui bahwa menodai Al-Quran merupakan penghinaan terhadap kitab suci semua agama samawi,” lanjut Kedubes Iran untuk Pakistan.
Kedubes Iran juga menegaskan, “Kami sangat yakin tindakan bias seperti itu berusaha menghasut opini publik, menimbulkan ketidakstabilan, menciptakan kekerasan, dan menyebarkan kebencian. Tidak diragukan lagi, cara menghasut opini publik yang bias dengan menghina simbol-simbol suci, yang dimaksudkan untuk menggoyahkan dunia Islam dan menciptakan kasus hukum yang manusiawi, harus dilawan dan dinetralkan.”
Kedubes Iran juga meminta semua orang beriman dan pemikir berjiwa merdeka di seluruh dunia untuk bergabung dalam upaya terpadu untuk mengecam penodaan tersebut.
Kedubes Iran menyatakan demikian lebih dari sepekan setelah seorang pria membakar kitab suci Al-Quran di luar Masjid Pusat Stockholm, ibu kota Swedia, saat umat Islam merayakan Idul Adha tahun ini. Aksi keji itu tak pelak membangkitkan gelombang kutukan dari berbagai negara Islam, termasuk Iran dan Pakistan.
Awal pekan ini, sidang gabungan Parlemen Pakistan mengeluarkan resolusi yang mendesak Swedia untuk mengambil “langkah yang tepat” terhadap para pelaku insiden di Stockholm tersebut.
Pada hari Jumat, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menekankan pentingnya aksi protes, yang telah terjadi secara nasional selama seminggu terakhir, dan melibatkan antara lain partai politik, pengacara dan bahkan komunitas Kristen. (mm/presstv)