AbuDhabi, LiputanIslam.com – Uni Emirat Arab (UEA) menarik diri dari koalisi maritim yang dipimpin Amerika Serikat (AS) setelah evaluasi ekstensif atas kebutuhan keamanannya.
Kementerian Luar Negeri UEA, Rabu (31/5), mengatakan, “Sebagai hasil dari evaluasi berkelanjutan kami atas kerja sama keamanan yang efektif dengan semua mitra, dua bulan lalu, UEA menarik partisipasinya dalam Pasukan Maritim Gabungan ini.”
UEA juga mengatakan berkomitmen untuk melakukan dialog dan keterlibatan diplomatik untuk memajukan keamanan dan stabilitas regional serta memastikan keselamatan navigasi di dekat pantainya sesuai dengan hukum internasional.
Keputusan tersebut menandai momen penting dalam lanskap geopolitik kawasan, dan mengubah dinamika kerja sama internasional dalam keamanan maritim.
Gugus tugas 34 negara yang bermarkas di pangkalan angkatan laut AS di Bahrain dibentuk untuk melawan terorisme dan pembajakan di Laut Merah dan kawasan Teluk Persia.
Kawasan ini memiliki beberapa rute pelayaran terpenting dunia, dan sejak 2019, telah terjadi serangkaian serangan terhadap kapal pada saat ketegangan antara AS dan Iran.
Sebelumnya pada bulan Mei, AS mengatakan akan memperkuat “postur pertahanan” di Teluk ketika Washington menuduh Teheran melakukan peningkatan serangan terhadap pengiriman komersial.
Iran menyita dua kapal tanker minyak internasional pada akhir April dan awal Mei di Selat Hormuz, termasuk Niovi, yang sedang melakukan perjalanan dari Dubai menuju pelabuhan Fujairah UEA.
Menurut The Wall Street Journal, keputusan UEA menarik diri diambil karena frustrasi atas kegagalan AS yang dirasakan untuk menanggapi “ancaman” Iran.
Mengutip pejabat AS dan Teluk, surat kabar AS itu melaporkan UEA kecewa dan menuntut AS mengambil tindakan lebih keras untuk menghalangi Iran setelah insiden baru-baru ini.
Namun demikian, UEA membantah kebenaran laporan surat kabar itu dengan mengatakan itu adalah “salah karakterisasi” percakapan antara kedua negara. (mm/aljazeera)