Khartoum, LiputanIslam.com – Jumlah korban tewas akibat pertempuran antara tentara reguler dan para militer Pasukan Pendukung Cepat (Rapid Support Forces/RSF) di Sudan membangkak menjadi 97 orang, dan jatuh pula korban luka dalam jumlah besar, menurut pengumuman Sindikat Dokter Sudan, Senin (17/4).
Dalam sebuah pernyataan, Sindikat itu menyatakan, “Tak kurang dari 97 orang telah tewas sejak pecahnya bentrokan di negara itu, pada hari Sabtu.”
Disebutkan pula bahwa jumlah itu tidak mencakup semua korban tewas, karena banyak korban lain tidak dipindahkan ke rumah sakit akibat kesulitan transportasi.
Pernyataan itu menambahkan bahwa “365 orang terluka”.
Pertempuran berlanjut di Khartoum, ibu kota Sudan, pada hari Senin, untuk hari ketiga berturut-turut, antara tentara dan RSF, sehingga terdengar kecamuk tembakan dan ledakan.
Ketegangan antara komandan militer, Abdel Fattah al-Burhan, dan pemimpin RSF, Muhammad Hamdan Dagalo alias Hemedti, berubah menjadi konfrontasi kekerasan pada hari Sabtu di tengah meningkatnya perselisihan politik dalam beberapa minggu terakhir.
Sementara itu, Mantan Perdana Menteri Sudan Abdallah Hamdok Ahad lalu menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan pertempuran, karena melewati “keadaan sulit dan situasi bencana.”
“Kami menyerukan segera diakhirinya perang di Sudan, dan perdamaian adalah satu-satunya pilihan yang tersedia bagi rakyat Sudan untuk menghindari ketergelinciran ke dalam perang saudara,” ungkapnya dalam konferensi pers di Abu Dhabi.
Hamdok menambahkan, “Sudan sedang mengalami keadaan sulit dan situasi bencana sebagai akibat dari perang yang menghancurkan segalanya saat ini.”
Dia menuntut diakhirinya campur tangan asing dalam urusan internal Sudan, dmeminta masyarakat internasional memainkan peran positif, dan mengimbau negara-negara Arab dan Afrika mendukung rakyat Sudan “dalam cobaan yang sulit ini.
Dia mengaku berkomunikasi dengan para pemimpin tentara dan RSF sebelum pecahnya perang, dan berbicara panjang lebar dengan mereka serta meminta mereka “mengutamakan bahasa dialog dan aksi damai.”
Sementara itu, komandan RSF, Muhammad Hamdan Dagalo, di di Twitter, Senin, menyatakan bahwa masyarakat internasional harus bertindak dan campur tangan melawan “kejahatan” kepala Dewan Kedaulatan Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, yang disebut oleh Dagalo sebagai “Islamis ekstremis yang membom warga sipil dari udara”.
“Pasukannya melancarkan serangan brutal terhadap orang tak berdosa, membom mereka dengan pesawat MiG,” tudingnya. (mm/raialyoum)
Baca juga:
Pertempuran Tentara vs Paramiliter di Ibu Kota Sudan Tewaskan Sedikitnya 56 Warga Sipil