Teheran, LiputanIslam.com – Jubir Kemlu Iran Nasser Kanaani mengatakan bahwa Presiden Iran Ebrahim Raisi telah mengundang Salman bin Abdulaziz Al-Saud dari Arab Saudi untuk melakukan kunjungan resmi ke Iran, menyusul kesepakatan rekonsiliasi antara kedua negara berpengaruh di Timteng ini.
Kanaan dalam jumpa press mingguannnya, Senin (17/4), Kanaani mengatakan bahwa Presiden Raisi telah menyampaikan undangan kepada Raja Salman untuk mengunjungi Teheran, dan bahwa Presiden Iran telah menawarkan untuk secara timbal balik menjamu Raja Saudi setelah menerima undangan darinya untuk mengunjungi Riyadh.
Kanaani menyebutkan bahwa Teheran dan Riyadh sedang menjalani proses implementasi kesepakatan untuk pembukaan kembali kedutaan besar, dan misi tersebut akan mulai beroperasi selambat-lambatnya tanggal 9 Mei.
Dia mengatakan kepada wartawan bahwa hubungan politik antara kedua belah pihak praktis telahdipulihkan, mereka tidak menghadapi hambatan untuk membuka kembali misi diplomatik, dan keduanya sekarang bertukar delegasi teknis mengenai masalah tersebut.
“Untungnya, kami telah mengambil langkah positif. Para pejabat kedua negara menyambut delegasi teknis dengan sangat baik,” katanya.
“Kedua belah pihak bersikukuh bahwa misi memulai pekerjaan mereka pada waktu yang tepat untuk memfasilitasi penyediaan layanan konsuler bagi jemaah haji Iran menjelang musim haji,” sambungnya.
Kanaani menjelaskan bahwa hubungan Teheran dengan Riyadh “tidak memiliki kaitan khusus” dengan masalah kesepakatan nuklir Iran 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
“Hubungan antara Iran dan Arab Saudi bersifat independen, dan tidak memiliki kaitan khusus dengan JCPOA. Kita berharap akan menyaksikan implementasi kesepakatan bersama di bidang politik, ekonomi dan ikatan antar bangsa, selangkah demi selangkah,” harapnya.
Iran dan Arab Saudi pada 10 Maret lalu mengumumkan sebuah kesepakatan yang ditengahi China untuk memulihkan hubungan, setelah tujuh tahun terputus. Dalam pernyataan bersama setelah penandatanganan perjanjian, Teheran dan Riyadh menekankan prinsip saling menghormati kedaulatan nasional dan menahan diri untuk tidak saling mencampuri urusan dalam negeri.
Pada awal April lalu, Menlu Iran Hossein Amir Abdollahian dan sejawatnya dari Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud bertatap muka di China dalam pertemuan resmi pertama diplomat tertinggi kedua negara sejak tujuh tahun silam.
Amir-Abdollahian dan bin Farhan merilis pernyataan bersama setelah pertemuan itu, dan menyuarakan kesiapan mereka untuk membuka kembali kedutaan besar dan bekerja untuk membangun keamanan dan stabilitas di Timteng. (mm/fna)
Baca juga: