Khartoum, LiputanIslam.com – Sedikitnya 56 warga sipil dilaporkan tewas dalam pertempuran antara paramiliter dan tentara yang telah memasuki hari kedua di Khartoum, ibu kota Sudan, pada hari Ahad (16/4).
Para saksi mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa suara tembakan artileri berat masih berkecamuk di Khartoum, serta kota tetangganya Omdurman dan dekat Bahri pada hari Ahad, sementara siaran televisi menunjukkan kepulan-kepulan asap tebal di angkasa Khartoum.
Persatuan Dokter Sudan mengatakan sedikitnya 56 warga sipil tewas dan 595 orang, termasuk petempur, terluka sejak meletus pertempuran antara tentara dan paramiliter Pasukan Pendukung Cepat (Rapid Support Forces/RSF) pada hari Sabtu.
Kedua belah pihak telah bersaing merebut kekuasaan ketika faksi-faksi politik bernegosiasi untuk membentuk pemerintahan transisi pasca kudeta militer tahun 2021.
Ketegangan dipicu oleh perselisihan antara militer, yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, dan RSF, yang dipimpin oleh Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, mengenai mekanisme integrasi paramiliter ke dalam angkatan bersenjata, dan terkait dengan otoritas apa yang harus mengawasi proses tersebut.
Kekuatan-kekuatan global yang terdiri atas AS, Rusia, Mesir, Arab Saudi, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa dan Uni Afrika menyerukan agar pertempuran segera diakhiri.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dalam sebuah pernyataan mengaku telah berbicara dengan menteri luar negeri Arab Saudi dan UEA dan mengatakan ketiga negara ini sepakat mengenai “sangat pentingnya” diakhirnya pertempuran di Sudan.
“Saya mendesak Jenderal Abdel Fattah Abdelrahman al-Burhan dan Jenderal Mohamed Hamdan Degalo untuk mengambil tindakan aktif guna mengurangi ketegangan dan memastikan keselamatan semua warga sipil,” katanya.
“Satu-satunya jalan ke depan adalah kembali ke negosiasi yang mendukung aspirasi demokrasi rakyat Sudan,” imbuhnya.
China melalui Kemlunya juga menyatakan keprihatinannya dan mendesak semua pihak di Sudan untuk menghentikan tembakan guna mencegah eskalasi. (mm/aljazeera)