Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Editorial

Persekutuan Rapuh AS-Saudi dan Terancamnya MbS

Published 18/10/2022 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

LiputanIslam.com –Ketegangan antara AS dan Arab Saudi tampaknya makin memanas. Kedua pihak sudah saling melontarkan kecaman hingga ancaman. Yang terbaru, seorang pangeran Saudi bernama Saud bin Fawaz al-Shaalan menyatakan kesiapan negaranya untuk berjihad melawan AS dan siapapun yang mengancam eksistensi negaranya. Ancaman ini disampaikan dalam konteks ketegangan yang makin meningkat antara negaranya dan AS, gara-gara masalah produksi minyak.

Ekonomi AS dan Barat memang sedang sangat lesu. Inflasi meningkat dengan cepat gara-gara harga minyak dunia yang melambung tinggi. Aksi embargo yang dilakukan AS dan negara-negara Barat kepada Rusia malah berbalik menjadi senjata makan tuan. Rusia adalah salah satu negara penghasil minyak dan gas terbesar di dunia. Tidak adanya aliran migas dari Rusia otomatis membuat harga minyak melambung tinggi. Untuk mengatasi krisis energi tersebut, AS menekan Arab Saudi yang memimpin negara-negara pengekspor minyak (OPEC) untuk menaikkan kapasitas produksinya.

Namun, alih-alih memenuhi permintaan tersebut, Arab Saudi dan negara-negara OPEC lainnya malah memangkas produksi minyaknya sebanyak 2 juta barrel per hari. Arab Saudi dan negara-neara-negara OPEC ini didasarkan kepada pertimbangan ekonomi dalam situasi ekonomi dunia yang serba tidak pasti dan terancam resesi. Dalam pandangan mereka, jika minyak terus digenjot, cadangan minyak makin menipis, dan tak mustahil bahwa dalam waktu yang tak lama lagi, negara-negara OPEC lah yang berhadapan dengan krisis energi.

Keputusan ini memantik kemarahan AS.  Senator Demokrat dari wilayah Connecticut Richard Blumenthal menyatakan bahwa dengan keputusannya itu, Arab Saudi telah memposisikan diri sebagai pengkhianat karena tindakannya ini sama saja dengan persekutuan dengan Rusia. Blumenthal dan beberapa senator lainnya saat ini sedang merancang sebuah petisi terkait penghentian penjualan senjata ke Arab Saudi selama satu tahun. Artinya, Arab Saudi akan dibiarkan dalam kondisi yang lemah secara militer saat negara ini masih sedang berkonfrontasi dengan Yaman. Ancaman dan tekanan AS inilah yang kemudian menciptakan reaksi balik yang tak kalah keras dari sejumlah kalangan dalam negeri di Saudi.

Bagaimana ujung dari perselisihan ini? Apakah ini akan menjadi pertanda bahwa Arab Saudi dan AS, dua negara yang dikenal sangat dekat satu sama lain, akan mengakhiri persekutuan mereka? Bisa jadi memang demikian. Pandemi yang disusul dengan operasi militer Rusia di Ukraina memang telah membuat banyak negara dunia kelimpungan. Krisis energi dan pangan melanda hampir semua negara maju dan kaya, termasuk AS dan Arab Saudi. Masing-masing negara tentu ingin selamat. Sayangnya, AS masih muncul dengan bahasa arogannya yang seperti biasa, yaitu bahwa kepentingan dan keselamatan nasional negara mereka harus mendapatkan perhatian dari negara-negara lain. Akan tetapi, saat ini, pemenuhan atas jika permintaan AS itu juga bermakna terancamnya kepentingan nasional Arab Saudi.

Jika situasi ini terus berlanjut, angat mungkin ujung-ujungnya adalah konflik di antara dua negara penting di dunia itu, dan publik dunia menantikan adanya perubahan besar sebagai imbas dari bubarnya persekutuan tersebut. Jangan lupa pula, pada tanggal 25 Maret 1975, Raja Faisal yang saat itu sedang bertakhta di Arab Saudi, dibunuh oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid. Pangeran Faisal baru saja kembali dari Amerika Serikat, dan sang pangeran sendiri akhirnya tewas ditembak oleh pengawal kerajaan, sehingga tak pernah terungkap motif pembunuhan tersebut. Yang pasti, Raja Faisal saat itu sedang berseteru dengan AS terkait masalah minyak. (os/editorial/liputanislam)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Timur Tengah

IRGC Berlatih Tempur di Teluk Persia

By Muhammad
Timur Tengah

Jenderal Iran: AS Harus Siapkan Barisan Peti Mayat Tentaranya Jika Nekat Bertindak Bodoh

By Muhammad
Timur Tengah

Iran Dikabarkan akan Segera Terima Rudal Jelajah Supersonik dari Tiongkok

By Muhammad
Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account