Beirut,LiputanIslam.com-Harian Rai al-Youm menyatakan, Sayyid Hasan Nasrallah masih memilih “diam” di tengah meningkatnya optimisme Otoritas Lebanon terkait penentuan perbatasan laut usai pertemuan dengan Utusan AS Amos Hochstein.
“Kami berharap optimisme Lebanon ini benar dan kali ini membenarkan niat Israel-AS, sebab opsi lain yang tersisa adalah perang. Setelah bertemu PM Najib Miqati, Menlu Abdullah Bou Habib menyatakan bahwa Hochstein telah memberikan tawaran-tawaran baru dan sudah ada kemajuan-kemajuan, meski belum final. Lebanon tetap menghendaki Jalur 23 dan keseluruhan ladang Qana”, tulis Rai al-Youm.
“Kami tidak tahu apa makna di balik tawaran-tawaran baru Israel yang menimbulkan optimisme. Namun kami yakin bahwa Sayyid Hasan Nasrallah mengetahui tiap detailnya, sebab keputusan ada di tangannya. Sebab 4 drone yang dikirim beberapa pekan lalu ke ladang Karish telah memicu ketakutan di kubu Israel dan AS, yang mendorong mereka untuk mengalah dan mempercepat proses tercapainya kesepakatan”.
Menurut Rai al-Youm, Hizbullah memilih diam dan menyerahkan perundingan kepada Pemerintah Beirut. Namun jika tujuan mediasi AS adalah mengulur-ulur waktu hingga setelah Pemilu Israel pada November mendatang dan Pemilu tengah periode DPR seminggu setelahnya, kebungkaman ini pasti tidak akan berlanjut.
Harian ini menulis, Washington tahu bahwa Sekjen Hizbullah bersungguh-sungguh dengan ancamannya, apalagi tenggat waktu yang diberikannya kepada Israel akan berakhir dalam waktu dekat. Joe Biden pun sadar benar bahwa tidak masuk akal untuk memicu perang di Timteng di saat Barat berkutat di Ukraina melawan Rusia. (af/fars)