Baghdad, LiputanIslam.com – Ulama Syiah terkemuka Irak Sayid Muqtada Sadr mengumumkan pengunduran dirinya dari gelanggang politik dan menutup kantor politiknya di tengah kebuntuan politik yang membuat negara ini tak kunjung memiliki pemerintahan baru sejak pemilihan parlemen Oktober tahun lalu.
Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasi melalui akunnya di Twitter, Senin (29/8), Sadr menyatakan, “Saya mengumumkan pensiun definitf dan penutupan semua institusi, kecuali makam suci, musium mulia, dan badan warisan Al-Sadr yang mulia. Semua ini saya bubarkan, dan jika saya meninggal atau terbunuh maka saya memohon Al-Fatihah dan doa.”
Sadr juga menyerang lawan politiknya dengan menyebut mereka gagal mengindahkan seruannya untuk reformasi.
Dia membuat pengumuman demikian setelah banyak pendukungnya berpartisipasi dalam aksi duduk di luar parlemen Irak sejak akhir Juli.
Sadr telah menuntut pembubaran parlemen dan pemilihan awal. Dia juga meminta para pendukungnya melanjutkan aksi duduk di dalam parlemen sampai tuntutannya dipenuhi.
Hasil pemilu parlemen Oktober 2021 memunculkan Blok Sadr sebagai faksi parlemen terbesar, tapi masih jauh dari mayoritas sehingga terjadi kevakuman politik terlama sejak negara ini diinvasi oleh AS dan sekutunya pada tahun 2003.
Pada Juni lalu, semua legislator blok itu yang berjumlah total 73 orang mundur dari kursi mereka dalam sebuah langkah yang dipandang sebagai upaya untuk menekan saingan politik agar mempercepat pembentukan pemerintahan.
Menurut undang-undang Irak, jika ada kursi di parlemen yang kosong, kandidat yang memperoleh jumlah suara tertinggi kedua di daerah pemilihannya menggantikan mereka.
Ini berarti bahwa banyak kursi yang dikosongkan oleh Blok Sadr akan diisi oleh partai-partai anggota Aliansi Kerangka Koordinasi, semisal Negara Hukum pimpinan mantan Perdana Menteri Nouri al-Maliki dan Aliansi Fatah, yang merupakan sayap politik pasukan relawan Hashd Al-Shaabi.
Puluhan Orang Tewas
Dikutip AFP, sumber keamanan menyebutkan bahwa ,menyusul pengumuman tersebut, puluhan pendukung Sadr menyerbu Istana Republik yang merupakan gedung seremonial di Zona Hijau Baghdad.
Para pengunjuk rasa yang marah “memasuki Istana Republik” tak lama setelah Sadr mengumumkan pengunduran dirinya, sementara ribuan loyalis Sadr lainnya menuju Zona Hijau.
Kantor berita Irak, INA, melaporkan bahwa menyusul kejadian ini, Komando Operasi Gabungan Irak menetapkan jam malam penuh di Baghdad hingga pemberitahuan lebih lanjut, mulai pada pukul 19:00 waktu setempat, dan mendesak para pengunjuk rasa agar meninggalkan Zona Hijau demi menghindari bentrokan.
Jaringan al-Sumaria Irak juga melaporkan bahwa polisi Irak menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Menyusul kerusuhan itu dan setelah pengunjuk rasa pro-Sadr masuk ke markas pemerintah, Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi menangguhkan sesi kabinet sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Menurut AFP, tembakan langsung mengguncang Zona Hijau Baghdad setelah pendukung Sadr menyerbu gedung pemerintah di daerah yang dibentengi.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa pasukan keamanan Irak berhasil memulihkan kendalinya atas Istana Republik.
Menurut sumber medis dan polisi Irak, 15 orang tewas dan sebanyak 350 lainnya terluka dalam bentrokan Senin di Baghdad. (mm/alalam/presstv)
Baca juga: