Liputanislam.com – Fakhrizadeh – dijuluki ‘bapak’ program Nuklir Iran – ditembak mati di dalam mobilnya oleh 12 pembunuh yang sangat terlatih menyusul ledakan di kota Absard, 50 mil sebelah timur Teheran.
Para pembunuh – termasuk sepasang penembak jitu – merupakan bagian dari kelompok komplotan 62 orang. 50 orang sisanya bertanggung jawab atas dukungan logistik.
Dikutip dari berita Daily mail, detail luar biasa tentang momen terakhir Fakhrizadeh telah diungkap oleh jurnalis Iran Mohamad Ahwaze yang mengklaim telah menerima informasi yang bocor dari otoritas negara.
Kematian Fakhrizadeh mengirim ketegangan di kawasan itu meroket karena Iran berulang kali menyalahkan badan intelijen nasional Israel, Mossad, atas pembunuhan itu – dengan beberapa tokoh terkemuka bersumpah akan membalas dendam.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei – yang memiliki keputusan akhir tentang semua masalah negara – kemarin mengatakan prioritas pertama Iran setelah pembunuhan itu adalah ‘hukuman definitif bagi para pelaku dan mereka yang memerintahkannya.’ Dia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Dan, dalam intervensi yang berisiko memperburuk konflik. Mantan kepala Badan Intelijen Pusat AS menyebut pembunuhan itu sebagai tindakan ‘kriminal’ dan mencapnya ‘sangat sembrono’.
John Brennan – yang merupakan direktur CIA dari 2013 hingga 2017 di bawah Presiden Barack Obama – mengatakan dia tidak tahu siapa yang harus disalahkan atas pembunuhan Fakhrizadeh tetapi mengatakan itu ‘berisiko pembalasan mematikan dan babak baru konflik regional’.
Seorang pejabat Amerika dan dua pejabat intelijen lainnya juga mengatakan kepada New York Times bahwa Israel berada di balik serangan itu. (Bp/Republika/Dailymail/Newsnow)




