
London, LiputanIslam.com—Ribuan orang di berbagai penjuru Eropa ikut serta dalam aksi protes rasisme dan brutalitas polisi terhadap kaum kulit hitam.
Aksi protes ini dipicu oleh kematian seorang warga Afrika-Amerika, George Floyd, yang dibunuh dengan sadis oleh polisi pada tanggal 25 Mei lalu. Awalnya, aksi solidaritas terhadap Floyd ini diselenggarakan di kota Minneapolis, AS, dan kini merambah berbagai kota di Eropa.
London
Di London pada Rabu (3/6), serangkaian pawai dan demonstrasi diikuti puluhan ribu orang. Mereka meneriakkan “Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian, tidak pada polisi rasis”.
Di lapangan Parlemen London, ribuan orang duduk dengan satu lutut, suatu simbol yang terkenal digunakan oleh pemain sepak bola Amerika, Colin Kaepernick, untuk mengecam kebrutalan polisi terhadap orang kulit hitam.

Sebuah kampanye bernama Stand Up to Racism juga meminta warga Inggris untuk “berlutut untuk George Floyd” di luar pintu rumah mereka.
Para demonstran tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Inggris ikut bersalah dalam kasus rasisme. Mereka pun melambaikan spanduk dengan slogan-slogan seperti, “Inggris bersalah: sedikit rasis tetaplah rasis”, “Rasisme adalah masalah global,” dan, “Jika Anda tidak marah, Anda tidak peduli”.
Rotterdam
Di Rotterdam, Belanda, ribuan aktivis anti-rasisme mengadakan protes damai; Namun, polisi Belanda meminta mereka untuk pulang lebih cepat karena kondisi yang terlalu ramai dan para peserta tidak dapat menjaga aturan jarak sosial.
Stockholm
Di Stockholm, Swedia, ribuan orang menentang kebijakan lockdown dengan turun ke jalan beramai-ramai. Mereka membawa plakat dan simbol dengan pesan-pesan seperti “Aku tidak bisa bernafas” dan “Black Lives Matter” di di sebuah lapangan di jantung kota.
Athena
Dalam salah satu unjuk rasa di ibukota Yunani, Athena, para demonstran melemparkan bom api dalam ketika berjalan menuju kompleks kedutaan AS.
Wartawan Reuters melaporkan bahwa para demonstran itu melemparkan beberapa benda berapi yang meledak di jalanan menjelang kedutaan yang dijaga ketat oleh polisi. Polisi pun merespon dengan serangan gas air mata.
Paris
Sedangkan di Paris, tercatat hampir 15.000 demonstran turun ke jalan pada Selasa (2/6) malam. Mereka menentang perintah polisi untuk diam di rumah sebagai bagian dari kebijakan lockdown di tengah wabah corona.

(ra/presstv)