Foto: Ella

Foto: Ella

Pagi bulan Oktober di Gaza adalah musim panas yang sepoi-sepoi. Saya menghabiskan satu lembar khubz, roti bulat tanpa rasa, bersalut hummus untuk sarapan pagi.

Ini hari terakhir kami liputan. Setelah sarapan, saya masuk kamar dan melihat ke luar jendela hotel. Anak-anak kecil asyik bermain bola di pinggir pantai. Berbeda dari pandangan umum, situasi di Gaza – di luar agresi – bukanlah situasi yang serba dingin dan ngeri. Saya datang ke Jalur Gaza, Palestina tahun 2012. Saat itu situasi konflik hangat-hangat kuku. Sesekali ada hantaman roket Israel, tapi aktivitas berjalan seperti biasa. Namun ada satu yang luar biasa, yaitu anak-anak Gaza.

Awalnya saya sempat berpikir akan menemukan anak-anak kecil yang kuyu dan depresi menghadapi situasi tak menentu di Gaza, Palestina. Namun perkiraan saya meleset total. Di Gaza City, saya dan tim sempat mengunjungi Syaikh Adnan Arrantisi, ulama terkemuka di Palestina. Siang begitu terik, tapi anak-anak tetangga asyik bermain tembak-tembakan di gang depan rumah Syaikh Adnan. Saya tertarik mendokumentasikan kegiatan itu. Tanpa disangka, anak-anak lelaki itu malah mengerubungi saya. Mereka cerewet sekali bertanya tentang kamera saku yang saya bawa.

Anak-anak GAza penasaran dengan kamera, foto: Ella

Anak-anak Gaza penasaran dengan kamera (foto: Ella)

Usai memotret, sesekali saya tunjukkan hasilnya ke mereka. Mereka pun berteriak gembira. Ada juga yang bandel, berusaha melihat paksa. Tapi rekan sepermainan yang lain mengingatkan untuk tetap sopan. Melihat keceriaan mereka, rasanya seperti bukan di Gaza.

Setelah selesai liputan, kami pun segera masuk mobil. Namun dari kaca spion terlihat seorang anak lari-lari mengejar. Saya berpikir mungkin ia hanya iseng saja. Tapi supir memberhentikan mobil dan membuka kaca jendela, dan anak bernama Muhammad itu menyorongkan bolpoin milik saya. Jatuh di tanah, katanya. Saya pun mengambil bolpoin itu dan mengucapkan terima kasih. Teman saya berkelakar, kalau di Indonesia bolpoin yang dipinjam saja bisa hilang. Kami pun tertawa.

Namun ada yang meresap di hati. Dari insiden itu kami mengetahui bahwa tingkat kejahatan di Gaza sangatlah rendah. Dari kecil anak-anak sudah dididik untuk jujur. Saya menemukan buktinya.

Anak-anak perempuan di GAza, foto: Ella

Anak-anak perempuan di Gaza (foto: Ella)

Di kesempatan lain saat  meliput pemakaman korban roket Israel, seorang anak perempuan berjalan sendiri. Kulitnya hitam manis. Rambut hitamnya dikepang dua. Aisha namanya. Nampaknya ia baru pulang sekolah. Anak perempuan di Gaza memang tidak menggunakan jilbab. Bahkan di hari raya Idul Adha, anak-anak perempuan Gaza mematut diri dengan pakaian ala Eropa. Harganya berkisar 500 ribu hingga 1 juta rupiah per helai. Namun anak perempuan yang saya temui kali ini menggunakan seragam sekolah biasa. Ia menatap saya lama sebelum memutuskan bertanya-tanya. Meski bahasa Inggrisnya terbata-bata, tapi keberadaan Aisha sangat membantu. Saya dipersilahkan mampir ke rumahnya, sembari ia pamit kepada orang tua untuk mengantar saya ke pemakaman. Saya dan rekan saya Siska yang terpisah dari kameraman dan penghubung, tidak bisa menolak bantuannya. Kami sama sekali tidak bisa berbahasa Arab. Lewat Aisha kami bisa memahami situasi saat itu.

Anak-anak Gaza riang bermain-main, foto: Ella

Anak-anak Gaza riang bermain-main (foto: Ella)

Takbir bergema mengiringi dua jenazah prajurit Al-Qassam yang meninggal. Saya bertanya kepada Aisha apakah ia takut. Ia menjawab bahwa takdir di tangan Allah, jadi ia tidak takut. Ia malah kagum dengan keberanian saya dan tim meliput ke Gaza, jauh dari Indonesia. Bersamaan dengan itu, pesawat F-16 berputar-putar di atas, memamerkan keangkuhan. Lewat Aisha kami tahu bahwa beberapa kali terjadi insiden pengeboman oleh Israel, saat peziarah mengiring jenazah ke pemakaman. Saya sedikit ngeri, tapi kemudian malu sendiri melihat Aisha tidak sedikitpun menyimpan takut. Kala usai liputan, kami sepakat hendak memberi Aisha uang atas kebaikan hatinya. Tak disangka, anak manis itu menolak tegas. Ia mengibaskan tangannya berkali-kali sambil berkata bahwa ia membantu karena Allah. “Wallahi, wallahi,” ucapnya. Saya terpaku.

Memori tentang Muhammad, Aisha, dan anak-anak Gaza lainnya terlintas ulang dalam benak saya kala menatap ke luar jendela hotel. Bagaimana bisa seorang ibu membesarkan lima hingga sepuluh anak dalam situasi krisis sanggup menanamkan keluhuran budi di hati mereka? Lalu darimana datangnya keteguhan iman sekaligus kepolosan kanak-kanak dalam satu kemasan yang menggetarkan jiwa? Jawabannya saya dapat di menit-menit terakhir meninggalkan Gaza. Saat itu kami sedang menunggu saat keluar perbatasan Rafah, Mesir. Seorang ibu berhijab hitam berjalan menyapa satu persatu sambil menyorongkan sesuatu. Awalnya saya berpikir ia sedang berjualan. Orang-orang yang ditanya pun menggelengkan kepala satu persatu. Kelak saya mengetahui bahwa ibu tersebut menemukan sebuah kunci, dan berkeliling untuk menemukan siapa pemilik kunci tersebut. Terakhir, saat tak ada seorang pun yang mengaku memiliki kunci tersebut, si ibu baru menyerahkan ke petugas imigrasi.

Pantai di Gaza, foto: Ella

Pantai di Gaza (foto: Ella)

Budi pekerti tidak hadir atas paksaan. Ia muncul karena teladan dari orang-orang di sekitarnya, termasuk orang tua. Dari anak-anak Gaza, saya mendapat banyak pelajaran penting tentang itu. Seujung kuku pun hidup saya di Indonesia tidak sebanding dengan penderitaan anak-anak Gaza. Tapi kedewasaan mereka menyikapi hidup, melampaui apa yang berusaha saya amalkan selama ini. Tak terasa, bulir-bulir bening menetes dari mata saya pagi itu. Koper telah siap, tinggal menunggu berangkat. Tapi hati saya seperti tertinggal di Gaza, di mata anak-anak Gaza yang ceria, meski moncong senjata Israel siap melumat mereka. Sesungguhnya mereka-lah yang hidupnya lebih merdeka daripada kita. Merdeka dari keinginan duniawi, merdeka dari rasa takut mati. Mereka, anak-anak Gaza. (Ella Devianti/LiputanIslam.com)
*Penulis adalah seorang jurnalis yang meliput ke Gaza pada tahun 2012.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL