Mosque- Cathedral Spanyol

Oleh: Bushra Burney*

“Es esta frita di la manteca de cerdo?” Itulah petunjuk dari Google Translate saat saya mencoba menerjemahkan “Apakah churros (camilan) ini digoreng dengan lemak babi?” dalam bahasa Spanyol. Saya rasa, saya perlu memastikan apakan churros yang di jual di Spanyol tidak mengandung lemak babi. Namun mencari churros di pameran pada kota Cordoba, bukanlah ide yang bagus.

Dalam perjalanan saya ke Spanyol, saya ditemani adik. Kami berangkat bersama rombongan yang dipandu oleh Haroon Moghul, seorang ahli sejarah Islam, dan selama beberapa hari, kami menghabiskan waktu di Seville, Cordoba, dan Granada.

Masjid – Katredal Cordoba

Kami semua takjub saat menyaksikan situs-situs sejarah, yang arsitekturnya di bangun oleh kaum Muslimin di masa lampau, kendati saat ini, hampir tidak ada ruang lagi bagi mereka. Bangunan Islam masih berdiri megah seperti Masjid-Katredal Cordoba yang begitu indah, meskipun kini telah ditahbiskan sebagai Katedral. Arsitektur khas masjid dengan lengkungan pada pilar, ataupun mihrab, masih tetap dipertahankan.

Arsitektur di dalam Mosque-Cathedral

Arsitektur di dalam Mosque-Cathedral

Menurut catatan sejarah, dulunya bangunan ini merupakan sebuah katedral bernama Visigoth St Vincent. Pertama kali diubah menjadi masjid tahun 784 M dibawah kepemimpinan Abd ar-Rahman I, saat Islam menguasai Andalusia. Masjid terus mengalami renovasi, dan saat pemerintahan Abd ar-Rahman II dibangun menara. Sementara di masa pemerintahan Al-Hakam II, masjid diperbesar dan dibangun mihrab. Renovasi terakhir dilakukan pada masa al-Mansur Ibn Abi Aamir tahun 987 dengan membangun penghubung dengan istana. Masjid ini, dulunya dinamai Al-Jami, dan menjadi pusat kegiatan keislaman, pemerintahan dan aktivitas warga di Andalusia selama tiga abad.

Masjid kembali berubah menjadi katedral pada masa penaklukan tentara Kristen pada abad ke-16. Bagian tengah masjid berubah menjadi altar utama dan tempat paduan suara. Tempat ini dikenal sebagai Kathedral Mezquita, gagah berdiri di tenggara Madrid, di kaki bukit Siera de Montena, dan menjadi saksi kemasyhuran peradaban Islam di bumi Spanyol.

Alhambra Palace

Alhambra Palace

Istana Alhambar Warisan Bani Ahmar 

Suatu sore, kami mengunjungi Istana Alhambra. Alhambra (secara harfiah berarti sesuatu yang berwarna merah atau the red one) di Granada adalah salah satu karya besar arsitektur Spanyol. Alhambra dimasukkan sebagai situs warisan dunia UNESCO dan telah menginspirasi banyak cerita dan lagu.

Sulit untuk mengambil gambar yang jelas mengingat ramainya pengunjung di sana. Saya terpana melihat wisatawan hari itu, yang banyak memotret gambar arsitektur dan kaligrafi yang menghiasi dinding. Kaligrafi itu sendiri berbunyi,”Allah adalah satu-satunya Pemenang”. Tapi mereka tetap tertarik. Kenyataan bahwa situs ini dibangun oleh kamu Muslimin tidak menghalangi mereka untuk tetap berkunjung.

Selama tur kami dari Alhambra, saya bertanya kepada Margarita, pemandu wisata kami tentang gambar Alhambra yang diambil dari kejauhan seperti yang terdapat di kartu pos. Dia bilang, untuk mengambil foto dengan angle tersebut, saya harus menuju Albayzin, sebuah kota tua ‘Moor’ yang harus dilalui dengan perjalanan berkelok-kelok, menanjak, dan sempit. Bangsa Moor (Bani Ahmar) dulu memerintah Spanyol selama 800 tahun, memperkenalkan teknik ilmiah baru kepada Eropa, seperti astrolable, yaitu alat untuk mengukur posisi bintang dan planet. Pada zaman keemasannya, Cordoba, merupakan pusat pemerintahan Islam di Spanyol. Kota modern terbesar di Eropa, dengan jalan raya yang terang dan air yang mengalir. Ada juga yang berpendapat bahwa Alhambra diambil dari nama Sultan Muhammad bin Al-Ahmar, penguasa Islam terakhir di kawasan itu.

Istana Alhambra sebelum  matahari terbenam

Istana Alhambra sebelum matahari terbenam

Untuk mencapai Albayzin, bisa dengan menggunakan taksi.  Pagi itu, jalanan masih sangat sepi ketika sampai di tujuan, lalu saya menatap Alhambra…saya hanya bisa berucap Masya Allah. Saya terpana. Tidak hanya Alhambra, tapi saya juga bisa melihat kota-kota lainnya dari tempat ini. Menatapnya, seolah begitu dekat. Perlahan matahari semakin meninggi dan kota pun mulai berubah terang.

Saya pun berjalan-jalan di Albayzin, mengunjungi Calle Nueva Caldereria, melihat-lihat di toko yang bertema Timur Tengah.

Situasi sudah berbeda dibandingkan waktu saya datang tadi. Restoran sudah buka, ada bus kecil dan taksi. Tempat ini sangat ramai dan saya kesulitan untuk bisa keluar dari lautan manusia ini. Akhirnya saya menghabiskan waktu seharian untuk mengambil foto dan jalan-jalan di kota itu.

Kaligrafi yang dijual di jalan utama

Kaligrafi yang dijual di jalan utama

Dulu Islam Berjaya, Kini Minoritas

Saya mencari masjid terdekat dari lokasi untuk melakukan shalat Maghrib, dan saya menemukannya di Mirador San Nicolas. Masjid ini dibangun pada tahun 1992, saat pemerintah Spanyol menerbitkan undang-undang dan perjanjian yang melindungi kaum Muslim. Sebelumnya, agama Islam dianggap ilegal kendati ada penduduk Muslim yang telah menetap di sini. Di masjid tersebut, saya bertemu dengan seorang wanita yang mengajar kelas kaligrafi, ia berasal dari Abu Dhabi. Malam itu, saya kembali ke penginapan di Granada.

Saya membeli  beberapa kaligrafi Arab. Ini adalah hal yang berbeda, kerena saya mendapatkannya bukan di negara Timur Tengah, melainkan di salah satu jalan utama di Granada, Reyes Catolicos (Monarki Katolik). Penjualnya adalah seorang Muslim asal Irak. Ini menyenangkan, karena sebelum atahun 1992, hal seperti ini tidak pernah terjadi.

Sebuah catatan sejarah yang layak untuk direnungkan. Wilayah ini, dulunya  ditaklukan dengan pedang oleh umat Islam pada zaman khalifah Bani Umayyah, Al-Walid bin ‘Abdul Malik (705-715), dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi. Sempat berjaya dan berada dalam era keemasan. Namun kini, hanya warisan sejarah yang masih kokoh, sementara umat Muslim sendiri, merupakan kaum minoritas yang harus berjuang keras untuk mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. (LiputanIslam.com)

 

*Penulis adalah seorang traveller, telah mengunjungi berbagai tempat di seluruh dunia. Gemar menulis dan me-review buku, film, drama, yang berkaitan dengan sosial budaya dan agama. Artikel ini diadaptasi dari catatan yang berjudul ‘Hanging Out in Islamic Spain’, di blog pribadinya, caffeinatedmuslim.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL