Jalanan di tengah gurun pasir menuju lokasi makam Nabi Shaleh as

Jalanan di tengah gurun pasir menuju lokasi makam Nabi Shaleh as

Oleh: M. Abdul Muhith*

Inilah satu-satunya penjelajahan saya selama di Yaman yang paling menguji adrenalin. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya saya langsung membelah puluhan kilometer dengan jalanan terjal nan tandus di gurun pasir selatan Yaman, untuk berziarah ke makam Nabi Shaleh as.

Jangan bayangkan jika disekitar makam beliau dibangun ruko, atau ramai dengan pedagang kaki lima dan souvenir seperti tempat-tempat ziarah lainnya. Semua itu tidak ada. Sebaliknya, untuk mencapai makam yang terletak di lereng bukit itu, saya harus mengarungi puluhan kilometer gurun sahara. Tidak ada bengkel, dan juga sinyal. Semoga saja tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.

Sejauh mata memandang, hanya terlihat gunung berbatu, gurun pasir, dan pohon khas gurun sahara. Debu beterbangan, dan saya hanya menjumpai sedikit rumah yang terbuat dari tanah liat, penduduknya mungkin hanya belasan saja. Aktivitas mereka mengembala unta, dan bercocok tanam di sekitar rumah.

Mobil khusus untuk mengarungi gurun

Mobil khusus untuk mengarungi gurun

Dengan mobil land cruiser khusus untuk perjalanan di gurun pasir, dan menyewa guide sebagai penunjuk jalan, saya berangkat dari kota Tarim usai sholat Shubuh bersama Tim Musafir Trans 7. Setengah jam kemudian kami sampai di kota Syewun. Melihat kondisi yang ada, kami memutuskan untuk sarapan pagi di kota itu. Menunya nikmat, berupa Hubz (roti khas Yaman) dimakan dengan fasuliya (kedelai / kacang yang dipadu dengan bumbu sayur kental), dan shasuka (telur yang dicamput dengan cabai, tomat, garam dll), ditemani sayhi halib (susu manis campur teh). Alhamdulillah.

Perjalananan dari kota Tarim sampai ke lokasi sekitar 4 jam. Selama 2 jam perjalanan kami tempuh di Gurun Sahara, dan hampir saja terjebak di tengah lembah Sar. Saya beserta rombongan sempat kehilangan jejak saat melewati jalan berbatuan, ditambah gundukan pasir  berbahaya yang membuat kami was-was. Namun dengan pertolongan Allah, akhirnya kami sampai di lokasi dengan selamat.

Sarapan pagi di Kota Syewun

Sarapan pagi di Kota Syewun

Nabi Shaleh as, Kaum Tsamud dan Unta Betina

Nabi Shaleh as, oleh Allah telah ditandaskan kisah kebenarannya, sebanyak 72 ayat dalam 11 surat diantaranya surat Al-A’raf ayat 73-79, surat Hud ayat 61-68, surat Al-Qamar ayat 23-32. Setelah diluluhlantahkannya kaum ‘Ad yaitu kaumnya Nabi Hud as, maka kaum Tsamud muncul menggantikan posisi mereka di Hadhramaut. Allah pun mengutus Nabi Shaleh as, yang membawa pesan suci untuk meluruskan ajaran kaum Tsamud, namun sayang, mereka mendustakannya.

Suatu hari, Allah menurunkan mukjizat berupa unta betina, mereka diperintahkan untuk tidak mengganggunya dengan membiarkan berkeliaran memakan makanan sesukanya, dan jika hal ini diabaikan, Nabi Shaleh as menyampaikan ancaman turunnya azab Allah.

Saat itu, kaum Tsamud merasa bahwa unta tersebut meresahkan. Persekongkolan pun dimulai. Seorang janda bangsawan yang kaya raya, membuat semacam sayembara.  Siapa saja yang bisa membunuh unta tersebut, maka ia akan menghadiahkan salah seorang putri cantiknya. Hal ini mengundang minat kaum Tsamud, hingga datanglah Mushadda’ bin Muharrij dan Gudar bin Salif. Dengan bantuan tujuh orang lelaki, unta itu dipanah dan ditikam hingga tewas.

Penulis bersama anak-anak dan unta peliharaan

Penulis bersama anak-anak dan unta peliharaannya

Nabi Shaleh as marah saat mengetahui untanya dibunuh. “Tunggulah azab Allah yang telah dijanjikan. Bersenang-senanglah kalian selama tiga hari. Setelah itu, Allah akan membinasakan kalian semua,” ucapnya.

Penangguhan waktu yang diberikan Nabi Saleh selama tiga hari adalah untuk memberi kesempatan kepada kaum Tsamud bertobat. tetapi, kesempatan itu malah digunakan mereka untuk menyusun rencana membunuh Nabi Shaleh dan pengikutnya.

Kondisi situs bersejarah

Kondisi situs bersejarah

Sebelum mereka melaksanakan niat jahat itu, Allah pun menurunkan azab-Nya. “Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang yang zalim. Mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaan bagi kaum Tsamud.” (QS. Huud: 67-68).

Benarkah Kaum Tsamud Hidup di Hadhramaut?

Nama Nabi Shaleh as, adalah Shalih bin Ubaid bin Masih bin Hadir bin Tsamud bin ‘Atsir bin Iram bin Nuh as. Beliau adalah nabi yang diutus untuk kaum Tsamud, sebuah kabilah masyhur (dinamai ini sesuai dengan kakek mereka Tsamud saudara laki-laki Jadis. Keduanya (Tsamud dan Jadis) adalah putra ‘Atsir bin Iram bin Saam bin Nuh as.

Area makam

Area makam

Kaum Tsamud termasuk bangsa ‘Aribah (suku Arab sebelum Nabi Ismail as) yang tinggal di Al-Hijir (kawasan berbatu) antara Hijaz dan Tabuk. Rasulullah pernah melewati tempat tersebut ketika beliau hendak menuju Tabuk bersama beberapa sahabat. Tempat tersebut dahulunya termasuk jajahan dan dikuasai suku ‘Ad yang binasa disapu angin topan sebagai pembalasan terhadap pembangkangan Nabi Hud as.

Bukti yang menguatkan bahwa bangsa Tsamud hidup di Hadhamaut seperti yang dijelaskan dalam surat Al-A’raf ayat 74, “Dan ingatlah kalian ketika Allah menjadikan kalian pengganti setelah kaum ‘Ad dan menempatkan  kalian di bumi, dimana kamu membuat istana dari tanahnya dan memahat gunung menjadi rumah-rumah. Maka ingatlah kalian nikmat-nikmat Allah dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi”. Dalam ayat itu dijelaskan bahwa Tsamud menggantikan posisi ‘Ad, dan Hadhramaut, adalah tempat yang dulunya dihuni oleh kaum ‘Ad.

Bangunan dari tanah di sekitar situs

Bangunan dari tanah di sekitar situs

Para ulama’ mengatakan bahwa makam Nabi Shaleh as itu berada di syi’ib Asnab lembah Sar (ada yang mengatakan Lembah Sur dan Lembah Sir – itu hanya perbedaan lafadz atau khilaf lafdhi), yaitu tempat perairan sebelah utara Al-Qathn.

Situs Bersejarah yang Tak Terawat

Situs makam Nabi Shaleh as saya temukan dalam sebuah bangun berbentuk persegi panjang bangunan itu berukuran panjang 24 meter dan lebar 6,20 meter dengan tinggi sekitar 3 meter, sepertiga bangunan tak beratap ada sebanyak 10 lubang jendela dan satu pintu utama menghadap kepala makam. Sedangkan makamnya sendiri  berukuran panjang sekitar 19,8 meter dan lebarnya sekitar 3 meter, tinggi berkisar 1 – 1,20 meter yang dicat kapur putih, namun karena tidak ada perawatan dan perhatian kini situs tersebut terlihat kusam.

Ruangan tempat istirahat bagi peziarah

Ruangan tempat istirahat bagi peziarah

Selain situs utama, saya juga menemukan bangunan masjid dan beratap, berukuran kecil sekitar 14 meter dengan lebar 10,5 menghadap kiblat. Disampingnya ada sumur dan terdapat kran untuk beruwdhu’ bagi para peziarah. Diujung ada kamar kecil tradisional sederhana cukup beratap dan berpintu tak ada aliran air disana (peziarah harus mengambil air dengan ember dari sumur untuk beristinja’). Terdapat ruangan kosong yang digunakan oleh para peziarah untuk beristirahat, namun tempat itu juga sangat kotor. Di dalamnya, ada beberapa tikar dan barang-barang kuno tak terawat.

Mengapa Dinamakan Hadhramaut?

Mengapa lembah ini dinamai Hadhramaut? Imam Al-Alusi menafsirkan qashrin masyid dalam surat Al-Hajj ayat 45 yang artinya istana yang tinggi. Di gunung kecil Hadhramaut terdapat sumur, dan Nabi Shaleh as pernah tinggal disana bersama 4000 orang dari kalangan orang beriman yang selamat dari adzab. Hadhramaut terdiri dari 2 kata hadhra artinya datang, dan mautun artinya kematian. Dinamai Hadhramaut karena ketika Nabi Shaleh as tiba, tinggal, dan meninggal  di tempat itu.

Kondisi jalanan terjal berbatu

Kondisi jalanan terjal berbatu

Sumur itu (bi’r mu’athalah – sumur mati) berada di suatu daerah yang disebut Hadhura. Lalu kaum Nabi Shaleh membangun daerah tersebut dan mengangkat seorang amir (pemimpin) bernama Jalhas bin Jalas. Wilayah itu pun makmur dan mereka menetap  dalam kurun waktu lama, sebelum akhirnya mereka kembali kafir dan meyembah berhala. Lalu Allah-pun mengutus Nabi Handholah bin Shafwan (yang sekarang dikebumikan di distrik Bur, Hadhramaut), namun mereka malah membunuhnya di pasar, sehingga Allah-pun membinasakan kaum itu.

Mengunjungi situs Nabi Shaleh as, adalah kesematan emas bagi saya. Tidak semua mahasiswa Indonesia di Yaman bisa mengunjunginya. Pasalnya, selain lokasi yang jauh dan jalan terjal, untuk menuju lokasi harus menggunakan mobil khusus yang biaya sewanyanya lumayan mahal. Untuk mobil land cruiser dipatok harga sekitar 20.000 Riyal Yaman atau sekitar 1.000.000 rupiah lebih. Semoga dengan ziarah saya untuk kali pertama ini, dapat menambah ketaqwaan atas kebenaran pesan suci yang ada dalam Al-Qur’an. Aamiin.(LiputanIslam.com)

*) Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al-Ahgaff, Yaman.  Aktif sebagai Sekretaris PPI Hadhramaut.

Baca juga perjalanan Abdul Muhith lainnya:

Menikmati Manhattan of The Desert, Warisan Kaum ‘Ad

Berkunjung ke Perpustakaan Tarim, Bercengkrama Dengan Manuskrip Lawas 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL