Desa Qare Yasr, foto: Syarief

Desa Qare Yasr, foto: Syarief

Tembok terbesar kedua di dunia setelah Tembok Besar Cina, ternyata ada di Iran ! Tepatnya, di Gorgan, kota tempat saya menuntut ilmu. Awalnya pada tanggal 18 Mei 2012 silam, saya dan beberapa mahasiswa dari berbagai negara seperti China, Pantai Gading, Kirgizistan, Tajikistan, Belarusia, Etiophia, dan Afghanistan, dipanggil oleh Mas’ul Tarbiyat Varzeshi (Kepala Pendidikan Olahraga). Kami diminta mempersiapkan diri karena ada agenda mendaki gunung yang diadakan oleh Walikota Gorgan dan Dinas Kebudayaan dan Olahraga Kota Gorgan.

Hari Jumat pagi, setelah selesai shalat Shubuh, kami berkumpul di Mahale Sabze Mashad Gorgan, salah satu warisan sejarah Iran yang dibangun sekitar 1931 M. Turut hadir Walikota Gorgan, para pejabat Walikota, Dinas Kebudayaan dan Olahraga, Dinas Warisan Kebudayaan dan Pariwisata, olahragawan dan olahragawati dari seantero Gorgan terutama para pendaki gunung, para penulis situs dan blog, mediawan dan para pecinta warisan kebudayaan. Kami semua bersemangat.

Bus bergerak pada pukul 5.30 pagi menuju bagian Selatan Provinsi Golestan. Sekitar 1 jam perjalanan, kami berhenti di hutan wilayah Deland untuk sarapan. Selanjutnya, kami singgah di Desa Qare Yasr. Kami sejenak melepas lelah dan bersilaturahmi dengan warga desa. Yang ingin buang air, warga desa dengan hangat menyambut kami dan mempersilahkan kamar mandinya dipakai. Desa ini indah karena dikelilingi oleh bukit, namun yang paling berkesan adalah kehangatan warganya.

Awal Pendakian

Awal Pendakian

Perjalanan kemudian dilanjutkan kembali, sekitar pukul 9.00 pagi kami sampai di Desa Tamar Qare Quzi, dekat lembah pegunungan ‘Ali Obod. Dari desa inilah kami akan memulai pendakian. Panitia mengumpulkan kami dan memberikan sedikit informasi tentang apa yang akan kami lewati dalam pendakian gunung itu. Saya terkejut saat panita menyebutkan bahwa gunung yang akan kami daki itu dulunya terdapat tembok panjang dan besar. Namun kini, yang tersisa hanya bebarapa bagian saja. Konon, ini adalah tembok terbesar di dunia setelah Tembok Besar China, dan dari riwayat lain juga disebutkan bahwasanya dinding tersebut adalah dinding perlindungan atau banteng pertahanan terbesar di dunia.

Sejarah Dinding Besar Gorgan

Dengan do’a dan shalawat kami memulai pendakian. Panas matahari pagi perlahan berubah semakin garang, namun kami masih bersemangat menaiki terjalnya gunung. Saya hanya bisa membayangkan tembok besar tersebut dulu bertengger di area gunung ini. Penasaran, saya terus mencari, dimanakah sisa dari tembok besar tersebut?

Penasaran saya terjawab karena di sekitar jalanan saya melihat ada beberapa tembok yang tersisa yang terkubur oleh tanah dan sedang dalam tahap penggalian. Beberapa saat kemudian, rombongan depan berhenti, seketika semua pasukan berhenti lalu mengelilingi dinding yang berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar 10 meter. Lalu Ir. Hamid Imrani, pejabat dari Dinas Warisan Kebudayaan menjelaskan sejarah dinding besar tersebut.

Sisa tembok besar, foto: Syarief

Sisa tembok besar, foto: Syarief

“Tembok Besar Gorgan adalah serangkaian benteng pertahanan kuno yang terletak di dekat Gorgan di Provinsi Golestan dari timur laut Iran, di bagian tenggara laut Kaspia. Dinding terletak di penyempitan geografis antara Laut Kaspia dan pegunungan Iran Timur Laut, salah satu dari beberapa pintu gerbang Kaspia di bagian timur daerah — yang dikenal di zaman kuno sebagai Hycrania. Membentang pada rute nomaden dari bagian utara ke jantung Iran, dan dindingnya diyakini telah melindungi Kekaisaran Sassania dari Selatan ke Utara. Perkiraan panjang bangunan ini adalah 200 kilometer dan tinggi dari 6 sampai meter, dan ada lebih dari 30 benteng berjarak interval antara 10 dan 50 kilometer. Hal ini melampaui Tembok Besar China sebagai tembok pertahanan terpanjang yang ada.

Tembok ini juga dikenal sebagai “Mor e Sorkh” atau Ular Merah karena batu bata tembok ini berwarna merah atau bentuk tembok yang memanjang seperti ular. Dikenal juga dengan Dinding atau Benteng Pertahanan Gorgan, nama-nama lainnya adalah Sadd e Firuz (Dinding Pertahanan Firuz), Sad e Anusyirwan (Benteng Pertahanan Anusyirwan), Qazal Al’an, dan Sadd e Iskandar (Bendungan atau penghalang dari Alexander).  Diikatakan Sadd e Iskandar  karena menurut sejarah Alexander Agung telah melewati Pintu Gerbang Kaspia, namun akhirnya dinding ini menjadi penghalang masuknya Alexander ke dalam kota.

Di sudut lainnya Tembok Besar

Di sudut lainnya Tembok Besar

Tanggal pembangunan tembok ini sampai sekarang masih dalam penelitian, dari beberapa perkiraan,tembok ini dibangun pada abad ke 6, pada era Khosrau 1 (531-579 M), sementara perkiraan lainnya menempatkan setidaknya 1000 tahun lebih tua dari tembok besar China.”

Setelah Oghoe Hamid Imrani memberikan informasi tentang tembok ini, pendakian kembali dilanjutkan, semakin jauh semakin lelah terasa, namun rasa penasaran masih ada dalam benak. Kemudian perjalanan kembali berhenti. Kali ini tembok yang kami lihat hanya sekitar 5 cm saja, terkubur dalam tanah dan masih diselimuti oleh plastik hitam besar.

Perjalanan kembali dilanjutkan, kami melewati ladang gandum yang sedang menghijau. Tak lama berselang, jalanan mulai menurun dan akhirnya kami sampai di ujung jalan. Di sana 4 bus sudah menunggu. Setelah menunaikan shalat Dhuhur, kami melanjutkan perjalanan kembali  dengan bus.

Setelah cukup jauh berjalan, bus kembali berhenti. Kami turun dan  berjalan kaki untuk menelusuri sisa- sisa dari tembok besar Gorgan lainnya.

Penulis, foto: Syarief

Penulis, foto: Syarief

Tembok Besar Gorgan pertama kali puing-puingnya ditemukan pada tahun 75-an oleh Jack Demorkan. Lalu, dilanjutkan oleh  Dokter Yusuf Kiyoni yang mengamati dari udara sehingga sisa-sisa dari tembok besar ini semakin terlihat dan berhasil diketahui. Tembok Besar Gorgan juga menjadi salah satu kandidat dari keajaiban dunia. Subhanallah, perjalanan mendadak yang sangat menyenangkan, menyehatkan dan penuh pengetahuan dan pengalaman. Alhmdulillahirrabbil’alamiin.

Setelah selesai mendaki gunung, kami kembali menaiki bis dan pendakian selesai, dan bersiap menuju ke sebuah desa dan situs bersejarah lainnya, yang Insha Allah akan saya tulis secara khusus di waktu mendatang. (Syarif Hidayatullah/LiputanIslam.com)

 

Penulis adalah Mahasiswa Al-Musthafa International University, Branch Gorgan. Wawancara dengannya tentang kehidupan di Iran bisa dibaca di sini.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL