Menuju Bugsan

Menuju Bugsan

Oleh: M Abdul Muhith*

Bugsan, merupakan salah satu tempat yang memikat di Kota Do’an. Kota Do’an dibagi menjadi dua bagian yaitu Wadi Aysar (lembah kiri) dan Wadi Ayman (lembah kanan). Bugsan sendiri berada di wilayah Wadi Aysar. Dari berbagi sumber, disebutkan bahwa Bugsan adalah nama salah satu qabilah Bugsan saudagar kaya, yang kemudian membangunkan jalan untuk kemaslahatan umum didaerah itu. Pembangunan jalandibukit-bukit berbatuyang curam ternyata mampu membantu jalur transportasi dan perekonomian warga. Maka dari sanalah daerah itu di sebut-sebut Bugsan, yang diambil dari nama Syekh Sulaiman Saed Bugsan.

Di kawasan itu, juga dibangun dan berbagai fasilitasnya seperti kolam renang dan permainan anak-anak. Anda bisa melihat pesona kota Do’an dari puncak tebing, dengan panorama kebun kurma yang ranum, diantara bukit-bukit batuada jalur terlihat putih dari puncak. Tahukah Anda apa itu? Jalur putih itu adalah batu-batu yang saat musim hujan akan menjadi tempat jalannya air sehingga genangan air yang mengalir akan terlihat menawan dari puncak.

Bugsan 6Villa Bugsan menawarkan berbagai macam dan aneka kamar peristirahatan mulai dari harga 7000 Riyal dengan satu kamar tidur besar dan satu kamar mandi plus perlengkapan, televisi dan kulkas, dan AC. Ada juga yang seharga 12.000 Riyal dengan 2 kamar dengan fasilitas yang sama. Dari villa yang jauh dari keramaian ini Anda akan merasakan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Di sini juga tersedia perapian, yang akan menghangatkan jika berlibur pada musim dingin.

Anda juga akan menemukan batu besar, diatasnya terbangun rumah-rumah tanah menjulang ke angkasa. Masyarakat setempat menamainya, Haid Jazil, bangunan itu sudah ada dari sejak dahulu ratusan tahun. Dan sekarang aktivitas di tempat tersebut masih tetap berjalan. Subhanallah! Dinamakan Haid karena berada dipuncak bukit, dan Jazil karena lokasinya aman dari guyuran hujan dan banjir yang melanda, dan aman dari peperangan antar qabilah. Dalam catatan majalah yang saya baca, di Haid Jazil ada sekitar 20 bangunan bertingkat. Dan semuanya terbuat dari tanah liat.

bugsan 2Bersama rekan saya Raisan Al-Jufri menyewa mobil Tucson yang diisi 6 orang, yaitu saya, Musthafa bin Syihab, Raisan Al-Jufri, Hamam, Afton, Hadi Al-jufri. Dan mobil ke-dua juga bersikan 6 rekan saya, kami ber-12 berniat menghabiskan masa liburan seharian menikmati pesona Bugsan. Dari asrama di kota Tarim tempat saya kuliah, kami telah bergegas sebelum waktu Shubuh untuk mengindari keramaian di jalan. Setelah berjalan beberapa lama, kami sampai di daerah Qatn dan berhenti untuk shalat Shubuh berjama’ah. Seusai dari shalat, serambi bertanya kepada masyarakat ke arah mana masuk kota Do‘an.

Liburan semester, merupakan kesempatan saya untuk bisa berkunjung ketempat-tempat wisata disela-sela kesibukan kuliah. Kami bermalam di villa dan pada malamnya, kami menggelar maulid Nabi Muhammad Saw, yang dilanjutkan dengan makan malam dengan bakar ayam dipuncak ketinggian, liburan kali ini sungguh mengasyikkan.

bugsan 9Mobil Macet, Diundang oleh Warga Yaman Keturunan Indonesia

Liburan seharian di Bugsan sudah berakhir, waktunya untuk kembali ke Tarim. Usai shalat Subuh berjamah dan sarapan kami akhirnya meninggalkan villa. Sekitar 10 menit perjalanan dari gerbang villa, mobil rekan saya mogok, kamipun akhirnya membantu. Sungguh naas, mobil macet ditengah jalan. Akhirnya kamipun memutuskan untuk ke bengkel.

Saat menunggu itu, saya dihubungi oleh Ali Bangqitoh, seorang teman yang berasal daro Do’an dan diajak mampir, makan siang dan beristirahat di rumahnya. Tentu saja undangan ini tidak kami sia-siakan. Tanpa pikir panjang, kami bergegas menuju rumahnya.

Ammu Salim Bangqitoh (ayahnya Ali) merupakan keturunan Indonesia. Akhirnya kamipun bercerita dan bertukar pengalaman tentang kehidupan di Tanah Air. Mereka bilang, masih cinta pada Indonesia, dan masih hafal kosakata dalam Bahasa Jawa, seperti sego (nasi), iwak asin (ikan asin), arek (teman), nyolong (mencuri). Selain itu, kata selimut, sandal, sambal ternyata sudah menjadi bahasa mereka (mengadopsi) dari bahasa Indonesia.

bugsan 1Dirumah itu kami dijamu makan siang dengan menu-menu yang luar biasa, nasi dipadu dengan ikan laut, sambal hijau pedas, lalap baqol (semacam sawi), acar mentimun, dan zabadi (sejenis keju) yang dicampur dengan mentimun yang dicincang. Mereka juga menghidangkan kurma asli Do’an yang dipetik dari kebun, teh hangat, dan manisan buah-buhan dipadu seperti es campur didalamnya ada buah pir, nanas, inab (anggur), buah tin, rasanya manis dan dingin.

Malamnya kami juga bercengkrama kembali, membacakan nasyid-nasyid Arab, pujian ke Rasulullah. Keluarga itu juga mengungkapkan keinginannya untuk berkunjung ke Indonesia tahun depan, setelah Ali Bangqitoh menyesaikan studinya di universitas. Kebetulan, saya dan Ali belajar di tempat yang sama. Mungkin karena rasa rindu yang mendalam pada Indonesia, kedatangan kami disambut dengan begitu hangat dan terbuka. Mereka juga meminta agar kami tinggal lebih lama lagi. Tetapi sayang, kami masih sibuk dan memiliki tugas dan tanggung jawab lainnya yang harus segera diselesaikan. Mudah-mudahan di kesempatan lainnya, kami bisa bersua kembali.

*) Penulis adalah Mahasiswa Fak. Syariah dan Hukum, Univ. Al-Ahgaff Yaman, aktif sebagai sekretaris PPI Hadhramaut, dan wartawan PPI Yaman. FB : M Abdul Muhith

Punya pengalaman jalan-jalan di luar negeri? Ayo bagi ceritamu kepada kami. Kirimkan tulisan ke redaksi@liputanislam.com. Panjang tulisan 800-900 kata, dengan 8 buah foto. Keterangan lebih lanjut bisa diperoleh melalui email.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL