Alanya Castle dari Kejauhan (foto:Dian Akbas)

Alanya Castle dari Kejauhan (foto:Dian Akbas)

Berbicara tentang Turki, biasanya kota Istanbul-lah yang akan muncul dalam pikiran. Jarang orang Indonesia yang tahu tentang keberadaan kota kecil yang indah di selatan Turki, di pesisir laut Mediterrania. Kota tersebut adalah Alanya. Alanya terletak di provinsi Antalya,  terkenal di kalangan wisatawan Eropa yang notabene mayoritas non muslim. Ya, mereka tergila-gila akan keindahan pantainya yang kesohor dengan sebutan The Pearl of Turkish Riviera. Namun meskipun begitu, bukan berarti di Alanya hanya melulu pantai yang menjadi tempat wisata. Di Alanya pun ada wisata sejarah, begitu pun dengan peninggalan Islam.

Jika Anda berkunjung ke Alanya, belum lengkap jika belum mengunjungi Alanya castle yang berlokasi di semenanjung berbatu menjorok ke laut. Begitu pun jika mengunjungi Alanya Castle, belum lengkap rasanya jika tidak mengunjungi masjid Alaaddin, atau lebih dikenal dengan masjid Süleymaniye.

Menaiki bus no. 4 dari dolmuş durağı (terminal bus) di pusat kota, Anda akan langsung diantarkan ke gerbang Alanya Castle. Dengan membayar 10 TL, Anda dapat masuk ke dalam inner castle. Jika Anda berdiri menghadap ke utara Alanya di bagian teras inner castle, lalu  menengok ke arah kanan maka Anda dapat melihat masjid Alaaddin yang berada di antara pepohonan.

Alanya Castle dibangun oleh kerajaan Selçuk di bawah pimpinan Alaadin Keykubat I. Waktu berjalan, Alanya berpindah tangan dari kerajaan yang satu ke kerajaan yang lain. Begitu pun dengan castle-nya. Terakhir pada 1471, Alanya menjadi bagian dari kerajaan Ottoman dan castle pun menjadi basis pertahanan Kerajaan Ottoman kala itu.

adam ataca

adam ataca (foto: Dian Akbas)

Berkunjung ke Alanya Castle seperti memasuki ruang waktu yang berbeda, seakan berada pada masanya. Menyusuri jalan kayu yang membentang dari pintu masuk hingga ke tempat yang bernama adam atacağı (melempar orang). Dulunya adam atacağı merupakan tempat melemparkan tahanan yang dihukum mati ke laut. Di bawah adam atacağı adalah penjara. Menurut riwayat yang beredar tentang adam atacağı, yang terkenal adalah riwayat pada masa Roman. Pada masa itu, jika ada tahanan yang dihukum mati akan dipenjara tanpa diberi makan dan minum. Setelah tiga hari, si tahanan akan diberikan tiga batu untuk dilemparkan ke laut. Jika satu saja batu dapat mencapai laut, maka tahanan akan dibebaskan. Tapi jika tiga-tiganya tidak mencapai laut, maka si tahanan yang akan dilemparkan ke laut. Dari sanalah nama adam atacağı berasal. Sampai sekarang pun para pengunjung suka mencoba untuk melemparkan batu ke laut dari Adam atacağı.

bagian dalam alanya castle

bagian dalam Alanya Castle (foto: Dian Akbas)

Jika sudah tidak sabar untuk dapat mengunjungi masjid Alaaddin, maka Anda harus bergegas keluar dari inner castle. Berjalanlah menyusuri jalan yang tadi dilalui bus hingga sampai di pertigaan yang terdapat plang penunjuk arah bertuliskan masjid Süleymaniye. Ikutilah kemana tanda panah mengarah. Sepanjang jalan dari pertigaan hingga mencapai masjid, terdapat tanda-tanda petunjuk sehingga Anda tidak akan kesasar.

Nama Alaaddin mengingatkan kita kepada hikayat Aladin dan lampu ajaib. Namun penamaan masjid ini sesuai nama pembangunnya pertama kali, yaitu Alaadin Keykubat I. Masjid ini menjadi saksi bisu beberapa kerajaan Islam yang bertahta di sini. Dibangun pada masa kerajaan Selçuk yang dipimpin oleh Alaadin Keykubat I pada tahun 1231. Seiring dengan berjalannya waktu, masjid ini mengalami kerusakan. Ketika kerajaan Ottoman berkuasa, masjid ini dibangun kembali pada masa Kanuni Sultan Süleyman bertahta (1530-1560). Oleh karena itu sampai sekarang masjid ini terkenal dengan nama Masjid Süleymaniye.  Karena masjid ini berada di area kale (castle), ada pula yang menamainya Masjid Kale.

menara mesjid suleymaniye

menara mesjid Alaaddin (foto: Dian Akbas)

Ketika mengikuti penunjuk arah lalu Anda berada di sekitar pekuburan, tak perlu kaget atau merasa salah arah. Masjid Süleymaniye atau Alaaddin ini dikelilingi oleh area pekuburan. Jika di Indonesia, area pekuburan identik dengan aroma mistis, tapi berbeda dengan di sini. Saya tidak merasa takut atau pun bulu kuduk juga tidak merinding. Biasa-biasa saja berada di area pekuburan di sini. Hanya biasakan saja untuk membaca Fatihah jika melewati pekuburan. Di setiap batu nisan di pekuburan di sini selalu bertuliskan “Ruhuna Fatiha” yang berarti mohon dibacakan surat Fatihah bagi yang berada di dalam kubur. Dan sebaiknya kita membacakannya. Hitung-hitung menanam “bibit”. Siapa tahu ketika kita meninggal kelak, banyak yang membacakan surat Fatihah untuk kita.

Pintu kayu dan lafadz Allah yang terpahat di tembok (di atas pintu) akan menyambut Anda untuk memasuki masjid. Di pojokan kiri ruang dalam masjid, terdapat beberapa hijab dan rok tergantung. Hijab dan rok tersebut diperuntukkan bagi pengunjung wanita yang tidak menutup aurat. Karena terdapat peraturan untuk memasuki masjid ini yang ditempelkan di dinding pintu masuk antara lain bagi wanita “women shouldn’t go into the mosque without covering their head and legs”.

pintu masuk mesjid Alaaddin (foto: Dian Akbas)

pintu masuk mesjid Alaaddin (foto: Dian Akbas)

Saya pun masuk ke dalam masjid dan merasakan  suasana hening yang menentramkan. Di dalam ruangan masjid yang berbentuk segi empat dengan cat polos berwarna krem ini, tak ada ornamen hiasan atau mozaik di dalamnya. Hanya ada beberapa kaligrafi yang menempel di dinding dan satu unit lampu gantung yang berfungsi untuk penerangan di malam hari. Menurut perkiraan saya dengan melihat karpet sajadah yang menutupi lantainya, masjid ini dapat menampung sekitar 400 jamaah.

Masjid Alaaddin atau Süleymaniye memang sangat sederhana, layaknya kesederhanaan Islam yang diajarkan Rasulullah. Dinding luar masjid ini tidak memakai cat. Terlihat tumpukan rapi batubata merah yang direkatkan oleh semen. Kubah dan menara yang mengukuhkan bentuk masjid ini seperti layaknya masjid-masjid Turki yang lain. Saya rekomendasikan untuk mengunjungi masjid ini jika berkunjung ke Alanya. Baik itu hanya untuk sekedar menikmati sejarah, atau pun untuk memanjatkan doa pada Sang Pencipta.(Ditulis oleh Dian Akbas/LiputanIslam.com)

*Dian Akbas adalah penulis buku “Muslimah Mompreneur” dan pemilik blog www.turkiyeandmylife.blogspot.com. Berdomisili di Alanya, Turki.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL