Gaza,LiputanIslam.com-Rezim Zionis pada hari Selasa (12/11) meneror dua komandan senior Jihad Islam Palestina. Salah satunya, yaitu Baha Abu al-Ata, diteror di Gaza dan yang lain, Akram al-Ajouri, di Damaskus.

Pihak Muqawamah membalas teror ini dengan menembakkan roket ke kawasan dan perangkat militer Israel. Rezim Zionis pun sejak Selasa pagi menghujani kawasan pemukiman di Jalur Gaza dengan rudal, sehingga puluhan warga gugur atau terluka.

Dalam situasi ini, kita menyaksikan bungkamnya mayoritas media-media Arab terkait kejahatan Israel di Gaza. Sebagian dari media-media ini bahkan masih terjebak di rawa rasisme dan sektarianisme. Selaras dengan kebijakan Israel, media-media ini memaparkan opini-opini sektarian dalam berita-berita mereka. Sebagai contoh, dalam mengabarkan gugurnya Abu al-Ata, media-media ini mengklaim,”Abu al-Ata adalah salah satu figur militer (Palestina) yang paling dekat dengan Iran dan mendukungnya.”

Terkait al-Ajouri, media-media ini juga mengklaim,”dia memiliki hubungan dekat dengan Iran, terutama dengan Qassem Soleimani dan Hasan Nasrullah (sekjen Hizbullah). Hal inilah yang membuat Israel mengincar nyawanya.”

Baca: Krisis Gaza, Senyapnya Solidaritas

Pertanyaan utamanya adalah: apakah hubungan kelompok Muqawamah Palestina dengan Iran adalah sebuah tindak kriminal? Selain Iran dan Suriah, siapa lagi yang membantu Muqawamah untuk bisa melawan Israel dengan sedemikian tangguh?

Apakah pejuang Palestina harus berhubungan dengan Saudi, UEA, Bahrain, dan Qatar? Bukankah negara-negara ini yang berkompromi dengan Israel untuk merampas hak rakyat Palestina dan memblokade mereka? Bukankah mereka yang menebar benih perpecahan dan menggunakannya sebagai senjata mematikan untuk melumpuhkan Iran? Padahal Iran menjadikan pembebasan al-Quds sebagai puncak prioritasnya dan membayar sangat mahal untuk tujuan ini. Bukankah negara-negara ini yang meninggalkan perjuangan Palestina? Kalau Palestina tidak boleh berhubungan dengan Iran, dengan siapa lagi mereka harus berhubungan?

Syekh Abdul Amir Qablan (ketua Majelis Tinggi Islam Syiah Lebanon) menanggapi gugurnya Abu al-Ata dengan mengatakan, balasan terbaik terhadap agresi Israel adalah bersatunya negara-negara Islam. Dengan cara inilah semua konspirasi dan agresi Israel bisa dibendung.

Pada hakikatnya, Syekh Qablan telah menyuarakan sebuah fakta yang gamblang. Dia menegaskan bahwa perpecahan dan kerusuhan adalah senjata Israel untuk mengacaukan kawasan demi mewujudkan tujuan-tujuannya.

Harian Israel, Jerusalem Post, menurunkan laporan terkait tiga figur yang paling membahayakan Rezim Zionis. Mereka adalah Sayyid Hasan Nasrullah, Qassem Soleimani, dan Baha Abu al-Ata. Laporan ini menunjukkan, mayoritas negara-negara Arab tidak memedulikan Palestina dan hanya Republik Islam Iran yang memberikan perhatian kepada bangsa tertindas ini.

Munib al-Saih (af/alalam)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*