masjid-nabawi-madinahKairo, LiputanIslam.com – Tak seperti di banyak tempat lain di dunia, umat Islam di kota Mosul, provinsi Ninawa di bagian utara Irak, tak dapat turut bersuka cita memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad saw. Hal ini tak lain karena terdapat larangan keras dari para ekstrimis kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang beraliran Wahhabi dan menduduki kota itu.

“ISIS telah menebar pengumuman ke semua masjid di kota ini supaya warga tidak merayakan peringatan Maulid Nabi Besar saw,” ungkap seorang pemuka masjid di kota Mosul, sebagaimana dilaporkan situs berita Rudaw dan dikutip Alalam, Jumat (2/1/2015).

Tokoh yang meminta namanya dirahasiakan itu menambahkan, “ISIS menganggap perayaan Maulid Nabi saw sebagai bagian dari bid’ah yang menyusup ke dalam Islam.”

Di kalangan Salafi/Wahhabi memang terdapat larangan keras bagi peringatan Maulid Nabi saw. Mufti Besar Arab Saudi Syeikh Abdulaziz bin Abdullah al-Sheikh, misalnya, menegaskan tradisi yang ada di mayoritas umat Islam Sunni dan Syiah ini sebagai bid’ah yang tidak pernah dipraktikkan oleh Rasulullah saw, para sahabat dan orang-orang salih terdahulu.

“Merayakan Maulid Nabi adalah praktik bid’ah yang tak berdasar, dan layak dipersoalkan,” ungkapnya, sebagaimana dimuat di Harian al-Madinah 25 Februari 2010.

Dia menambahkan, “Semua (perayaan) ini tidak berasal dari nabi kita maupun para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti manhaj dan jejak mereka.”

Berbeda dengan al-Syeikh, Mufti Mesir Dr. Ali Gomaa yang bermazhab Sunni Syafi’i, sebagaimana dimuat situs Darul Ifta’ (Lembaga Fatwa Mesir) 30 Juli 2007, menilai perayaan Maulid Nabi saw sebagai salah satu amalan terbaik

“Perayaan Maulid Nabi saw merupakan salah satu amalan terbaik dan dapat mendekatkan kepada Allah Swt karena merupakan bentuk ekspresi kebahagiaan dan kecintaan kepada Rasulullah saw, sedangkan kecintaan kepada beliau adalah bagian dari prinsip keimanan.”

Dia mengutip sabda Nabi saw; “Demi Zat yang jiwaku ada dalam genggamanNya, tidak akan beriman seseorang di antara kalian sebelum aku dicintai olehnya melebihi cintanya kepada ayah dan anaknya.”

Dia menjelaskan perayaaan Maulid Nabi saw mulai mentradisi di tengah umat Islam sejak abad ke-4 dan ke-5. Saat itu orang-orang salih terdahulu merayakannya dengan cara memeriahkan suasana malam Maulid dengan amalan-amalan “taqarrub” (pendekatan kepada Allah) semisal berbagi makanan, membaca al-Quran, berzikir dan membacakan syair-syair tentang Rasulullah saw.

Menurutnya, hal tersebut dicatat dengan jelas oleh para sejarawan termasuk Ibnu al-Jauzi, Ibnu Katsir, al-Hafid Ibnu Dihyah al-Andalusi, dan al-Hafidh Ibnu Hajar.

Di kalangan Syiah, peringatan Maulid Nabi saw juga sudah menjadi tradisi yang mendarah daging.

Sebagaimana dimuat situs berita al-Shorouk, Jumat (2/2/2015) Tahir al-Hasyimi, anggota Lembaga Ahlul Bait Sedunia di Mesir mengatakan, “Perayaan Maulid Nabi Besar saw di kalangan Syiah tidak berbeda dengan kalangan Ahlussunnah. Ini telah disepakati, dan tidak ada pula ritual khusus di kalangan Syiah yang berbeda dengan Ahlussunnah.”

Dia menambahkan bahwa pada peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw itu kaum Syiah membagi-bagikan kue sebagai ungkapan rasa gembira yang muncul di tengah keluarga, memilih hari itu sebagai hari pernikahan dengan harapan mendapat berkah dari beliau, serta membacakan sirah atau riwayat hidup dan sejarah kelahiran beliau.

“Semua orang memperingati Maulid Nabi saw kecuali kaum Wahhabi. Mereka dan para ulama mereka mengharamkannya. Padahal tak syak lagi, perayaan tahunan Maulid Nabi saw merupakan sebentuk kebangkitan Islam dengan spiritualitas yang tinggi dan mengingatkan kita kepada sang pembawa rahmat, petunjuk dan pelita yang menerangi,” pungkasnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*