Beirut, LiputanIslam.com –  Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah menegaskan bahwa serangan pasukannya pada Ahad lalu (1/9/2019) merupakan “bagian dari balasan terhadap Israel” sehingga menjadi hari monumental yang harus selalau diingat oleh Israel.

Dalam pidato pada acara hari-hari peringatan Tragedi Asyura, Senin (2/9/2019), dia mengingatkan bahwa Poros Resistensi telah mengukuhkan perimbangan daya pencegahan, dan mengatakan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, “Anda harus tahu bahwa kami tak lagi memiliki garis merah karena Anda telah mengubah aturan main.”

Nasrallah mengancam akan menggempur wilayah kedalaman Israel jika rezim Zionis ini melancarkan serangan lagi ke Libanon.

“Sudah kami nyatakan secara terbuka bahwa kami akan membalas, dan kami katakan pula kepada musuh, ‘Tunggulah kami’, dan inilah (aksi) anasir pasukan Poros Resistensi,” tegasnya.

Dia menambahkan, “Apa yang terjadi kemarin ialah bahwa Poros Resistensi telah menghancurkan garis merah terbesar Israel yang sudah berusia puluhan tahun…Serangan terhadap kendaraan Israel Ahad lalu terjadi bukan di daerah pertanian Shebaa yang dipandang Libanon sebagai wilayah pendudukan, melainkan di dalam wilayah pendudukan 1948 yang diakui secara internasional sebagai milik Israel.”

Baca: Hizbullah Gempur Pasukan Israel, Perwira Tinggi Zionis Dikabarkan Tewas

Pemimpin berserban hitam sebagai pertanda keturunan Rasulullah saw ini memperolok tindakan sebagian kalangan yang menakut-nakuti Hizbullah dengan resiko serangan balasan terhadap Israel.

“Operasi serangan Poros Resistensi dilancarkan kemarin di siang bolong, bukan malam hari seperti sebelumnya… Poros Resistensi telah membidik sasaran, dan jelas-jelas telah menimpanya,” terangnya.

Dia mengancam Israel, “Jika kalian menyerang kami maka semua perbatasan, pasukan, dan daerah jajahan kalian akan masuk dalam lingkaran sasaran dan balasan.”

Baca: Kelompok Pejuang Palestina Puji Serangan Hizbullah Terhadap Pasukan Israel

Sembari menyebut Israel “sombong dan melampaui batas”, dia mengatakan bahwa rezim penjajah Palestina itu telah menaikkan status waspada keamanannya ke level tertinggi yang bahkan “luar biasa”  serta “mengaktifkan semua fasilitas pertahanan udaranya”, mengosongkan secara total semua posisi dan baraknya di dekat perbatasan setelah terjadi serangan Hizbullah yang menghancurkan mobil lapis baja Israel yang sedang bergerak di jalur yang menuju ke kamp militer Avivim.

Mengenai penerbangan dua drone Israel ke Libanon pekan lalu, Sayid Nasrallah menjelaskan bahwa drone pertama terjatuh sehingga misinya gagal, sementara misi drone kedua juga gagal.

“Balasan kami (atas penerbangan dua drone itu) terdiri atas dua tema, pertama berkenaan dengan kondisi lapangan di perbatasan (Libanon) dengan Palestina pendudukan 1948, dan kedua berkenaan dengan drone,” ujarnya.

Dia menambahkan, “Pihak musuh telah meninggalkan perbatasan sehingga kami tidak melihat pasukan ataupun peralatan mereka di sepanjang perbatasan. Poros Resistensi melancarkan operasinya di perbatasan di siang bolong, dan sengaja kami tidak melakukan di malam hari….Tentara Libanon masih ada di perbatasan, sementara pasukan Poros Resistensi ada di manapun mereka merasa perlu ada.”

Dia juga menegaskan, “Poros Resistensi telah menghantam kedalaman wilayah rezim pendudukan meskipun mereka melakukan segala tindakan dengan semua tujuannya yang ilusif belaka.” (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*