London, LiputanIslam.com –  Sejarawan Inggris Michael Burleigh mengungkap satu fakta baru mengenai Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman yang belakangan ini disorot dunia dalam kasus pembantaian dan mutilasi jurnalis dan kritikus tenar Saudi Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Dalam artikelnya di Mail on Sunday pada 20 Oktober 2018 Burleigh menyebutkan bahwa Badan Intelijen Federal Jerman (BND) yang setara dengan M16 milik Inggris pada awal Desember 2015 pernah merilis laporan langka tentang regenerasi dalam kepemimpinan Saudi.

BND saat itu memperingatkan bahwa kekuasaan di Saudi terkonsentrasi di tangan Bin Salman yang merangkap menteri pertahanan. BND juga memperkirakan bahwa Bin Salman akan berusaha menggantikan ayahnya sebagai raja, dan bahwa dia akan menggunakan platform itu untuk menjadi pemimpin bergaya mantan diktator Irak mendiang Saddam Hossein di dunia Arab.

Akibatnya, lanjut Burleigh, Saudi yang sering dipandang sebagai sekutu pro-Barat yang berharga akan mengabaikan kehati-hatian demi mendukung peran regional yang tidak stabil. BND bahkan kuatir dia merupakan seorang petaruh yang akan menggunakan kekuatan militer untuk mendapatkan jalannya.

Menurut Burleigh , pernyataan BND itu aneh bagi dinas intelijen, apalagi ketika terjalin hubungan komersial erat antara Jerman dan Saudi (Sebagaimana Inggris, Jerman menjual senjata ke Arab Saudi), kecuali jika BND memiliki akses ke bukti yang jelas dan mengkhawatirkan.

Lebih lanjut Burleigh  mengungkap rekam medis kejiwaan Bin Salman.

“Saya telah diberi tahu oleh seorang anggota dari sebuah rumah lain di Teluk bahwa BND mendapatkan riwayat medis Bin Salman setelah dia di saat remaja dirawat di Jerman karena epilepsi, termasuk catatan kejiwaan yang telah menyebabkan kekhawatiran tentang keadaan pikirannya,” tulis Burleigh.

Burleigh menilai BND benar terkait dengan ambisi Bin Salman yang telah mengambil alih jabatan putra mahkota tahun lalu ketika ayahnya, Raja Salman yang berusia 82 tahun, menderita Alzheimer.

Burleigh menyebutkan bahwa di tangan Bin Salman, perang Saudi terhadap di Yaman dilancarkan tanpa mengindahkan jatuhnya 10.000 korban sipil serta risiko 11 juta orang mati kelaparan. (mm/mailonline)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*