Teheran, LiputanIslam.com –   Para pejabat Iran, Ahad (4/8/2019), menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif setelah dia menolak ajakan untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump.

Majalah AS The New Yorker dalam sebuah artikelnya menyebutkan bahwa dengan persetujuan Trump Senator AS Rand Paul telah menjadi mediator ajakan kepada Zarif untuk ke berkunjung ke Gedung Putih.

Menurut The New Yorker, Rand pernah mengadakan pertemuan dengan Zarif di sela-sela kunjungan Zarif ke PBB di New York pada pertengahan Juli lalu, dan para pejabat Iranpun mengkonfirmasi informasi tersebut, Ahad.

Juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiee mengatakan, “Dalam pertemuan dengan senator itu (Zarif) telah diundang untuk pertemuan, tapi kemudian dia malah dikenai sanksi.”

Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi Iran dia menyoal, “Mengenai pemerintahan yang selalu mengaku (mengutamakan) perundingan tapi kemudian malah menerapkan sanksi terhadap menteri luar negeri, bukankah ini omong kosong?”

Sembari menilai perlakuan AS sebagai kekanak-kanakan, dia menilai sanksi “menunjukkan bahwa para politisi di Gedung Putih telah menjadikan masalah ini sebagai urusan pribadi.”

Ketua Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran Brigjen Ali Shamkhani mengatakan bahwa ajakan Gedung Putih yang disusul dengan sanksi itu membuktikan kekandasan diplomasi AS.

“Penerapan sanksi terhadap menteri luar negeri yang telah menolak usulan Trump untuk melakukan perundingan langsung membuktikan bahwa kereta puncak tekanan (AS terhadap Iran) telah berhenti di stasiun kegagalan,” ujarnya.

Menurut The New Yorker, Zarif menanggapi ajakan itu dengan menyatakan bahwa menerima ataupun menolak undangan ke Gedung Putih diambil di Teheran sendiri, dan diakhawatir bahwa pertemuan seperti itu hanya akan menjadi kesempatan bagi AS untuk sekedar mengambil gambar saja tanpa ada konten lain, dan oleh sebab itu para pemimpin Iran menolaknya.

Ketegangan mulai meninggi antara Teheran dan Washington sejak Mei 2018 setelah Trump menarik negaranya keluar dari kesepakatan nuklir Iran yang diteken pada tahun 2015 dan secara resmi dinamai “Rencana Bersama Aksi Komprehensif” (JCPOA), dan kemudian dia menerapkan kembali sanksi keras AS terhadap Iran meskipun keputusan ini mendapat kecaman internasional.(mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*