penyanderaan di australiaTeheran, LiputanIslam.com – Pemerintah Republik Islam Iran secara resmi mengutuk aksi penyanderaan di Lindt Chocolate Cafe, Martin Place di CBD (Central Business District), Sydney, Australia, yang terjadi dan berakhir Senin kemarin (15/12) dan pelakunya disebut-sebut berasal dari Iran.

“Mengandalkan metode tidak manusiawi seperti ini serta menebar ketakutan dan kepanikan atas nama Islam tidak dapat dibenarkan dalam kondisi bagaimanapun,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marziyeh Afkham, sebagaimana dilansir Press TV.

Dia menambahkan bahwa polisi Austalia telah memantau sepenuhnya kondisi kejiwaan pelaku penyanderaan yang telah berimigrasi ke Australia sejak dua dekade silam.

Menurut laporan media lokal Australia, pelaku penyanderaan adalah pria berdarah Iran yang telah menetap di Australia sejak 18 tahun silam.

Motivasi penyanderaan belum diketahui secara persis, namun ada indikasi bahwa aksi itu terkait dengan negara-negara penyokong terorisme, termasuk Amerika Serikat, Israel dan beberapa rezim di Timur Tengah yang mendukung kelompok-kelompok radikal takfiri semisal Front al-Nusra dan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Perdana Menteri Australia Tony Abbott menyatakan pihaknya belum mengetahui motif aksi penyanderaan itu.

“Kami tidak tahu apakah ini bermotif politik, walapun ada beberapa indikasi bahwa hal itu bisa (saja bermotif politik),” tuturnya kepada wartawan Senin kemarin.

Pada 1 Desember lalu pelaku penyanderaan telah memosting pesan di media sosial Twitter berisikan pernyataan yang menyebut Iran dan semua pendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagai teroris.

Aparat keamanan Australia akhirnya dapat mengatasi drama penyanderaan setelah berlangsung lebih dari 16 jam. Sayangnya, operasi pembebasan sandera menelan korban jiwa. Selain pria bersenjata yang diketahui sebagai pria kelahiran Iran tersebut, dua sandera juga terbunuh dalam operasi tersebut. (Baca: 3 Tewas dalam Penyanderaan Sydney)

Saat peristiwa penyanderaan berlangsung, terlihat beberapa korban yang ketakutan membentangkan bendera hitam dari balik kaca jendela kafe. Bendera bertuliskan kalimat berbahasa Arab itu diduga milik kelompok teroris Front al-Nusra yang bercokol di Suriah.

Dalam beberapa bulan terakhir pemerintah Canbera meningkatkan pantauannya terhadap orang-orang yang pulang dari Suriah dan Irak dan diketahui terlibat dalam operasi teror di dua negara Arab tersebut.

Awal bulan ini pemerintah Canberra mengumumkan sedikitnya 20 teroris asal Australia yang ikut berperang bersama kelompok-kelompok teroris, termasuk ISIS, terbunuh di Irak dan Suriah, sementara jumlah total warga negara Australia yang bergabung dalam gerakan terorisme ISIS di sana mencapai 90 orang lebih. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL