Brussel, LiputanIslam.com –  Arab Saudi masih memilih bungkam terkait dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu dan Selasa lalu bahwa kerajaan Saudi tidak akan bertahan dua minggu tanpa pembelaan AS.

Sikap Saudi kali ini jauh berbeda dengan sikapnya ketika Barack Obama, pendahulu Trump, kepada majalah The Atlantic pada Maret 2016 menyebut negara-negara Arab Teluk tak lagi penting.

Para pengamat keheranan mengapa Saudi sama sekali tak berkomentar, padahal statemen Trump itu merupakan tamparan keras bagi militer Saudi dan pengakuan atas keunggulan militer Iran, apalagi Saudi belum lama ini bersikap keras terhadap Swedia, Jerman, dan Kanada yang telah mengritiknya dalam isu HAM.

Beberapa sumber yang mengerti kebijakan baru AS menjelaskan mengapa Saudi bungkam. Menurut mereka, Saudi bergeming karena dua faktor sebagai berikut;

Pertama, Saudi menduga akan mendapat reaksi sengit atau bahkan sanksi ekonomi jika berani melontarkan pernyataan-pernyataan yang “tak relevan”, sebab Trump ingin memenangi suara dalam pemilu parlemen pada November mendatang sehingga siap melakukan apa saja.

Kedua, Saudi kuatir terhadap kemungkinan Trump menyetop dukungan militer AS kepada Saudi dalam perang terhadap Yaman lalu terlihat di mata dunia sejauh mana kelemahan militer Saudi, dan pada gilirannya orang-orang Yaman akan semakin bernyali dalam menggempur wilayah Saudi.

Sedangkan dukungan AS kepada Saudi dilakukan antara lain sebagai berikut;

Pertama, menyediakan informasi intelijen mengenai posisi-posisi tentara Yaman dan pasukan Ansarullah (Houthi).

Kedua, partisipasi para perwira AS, terutama pilotnya, dalam perang.

Ketiga, keterlibatan para teknisi AS dalam operasi militer, termasuk pencegatan rudal balistik yang diluncurkan Ansarullah ke wilayah Saudi. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*