operasi irak di al-karmahLondon, LiputanIslam.com – Koran Inggris Daily Telegraph menilai Ramadi, ibu kota provinsi Anbar, Irak, tidak akan bisa dibebaskan oleh pasukan Irak dari cengkraman kelompok teroris takfiri negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tanpa bantuan Iran.

Sebagaimana dikutip Fars News Selasa (19/5), laporan yang ditulis oleh Richard Spencer itu juga menyebutkan bahwa sebagian besar pasukan yang dikerahkan untuk menjaga keamanan Ramadi adalah pasukan Irak yang dilatih oleh Amerika Serikat (AS), tetapi sekarang pemerintah Irak lebih mengandalkan pasukan relawan al-Hasyd al-Sakbi yang dilatih Iran.

“Ketidak hadiran al-Hasyd al-Sakbi selama ini di Ramadi adalah sesuatu yang sudah diperhitungkan dan terjadi akibat tekanan AS,” tulis Spencer.

Menurutnya, AS sekarang harus membenahi skala prioritasnya, seiring dengan program pemerintah Irak dan relawan untuk memulai operasi pembebasan Ramadi.

“Tak syak lagi bahwa sekarang jet-jet AS telah berubah menjadi pasukan udara Iran,” klaim Spencer.

Di bagian akhir tulisannya dia menyebutkan bahwa sekarang “Pemerintah Irak maupun AS sama-sama memerlukan mereka (Iran).”
Sementara itu, pakar keamanan dan strategi regional Timur Tengah Mohammad Mohyi menuding AS justru bersekongkol supaya Ramadi jatuh ke tangan ISIS.

“Pasukan koalisi pimpinan AS sebenarnya bisa mencegah jatuhnya Ramadi ke tangan ISIS. Namun mereka sengaja tidak melakukan tindakan yang semestinya untuk itu,” katanya dalam wawancara dengan Baghdad Times, Selasa (19/5).

Dia menilai pasukan koalisi tidak serius memerangi ISIS, karena seandainya serius mereka pasti dapat melakukan pengendalian ketat melalui zona udara Irak dan berperan besar dalam penumpasan ISIS.

“Lebih dari 2000 petempur masuk ke Irak dari wilayah Suriah tanpa ada tindakan apapun dari pasukan udara koalisi untuk mencegah kedatangan mereka,” keluhnya.

Dia menambahkan bahwa jatuhnya Ramadi ke tangan ISIS telah membuat AS dan beberapa faksi politik Irak menjadi sasaran tuduhan bermain mata untuk menjatuhkan Ramadi ke tangan ISIS.

“Dengan jatuhnya Ramadi, AS bermaksud menekan pemerintah Irak supaya menjalankan agenda-agenda disintegrasi Irak yang kemungkinan obyek pertamanya adalah wilayah-wilayah yang berpenduduk Sunni,” paparnya.

Seperti diketahui, Ramadi jatuh ke tangan ISIS sejak beberapa hari lalu. Hal ini mendorong Perdana Menteri Irak Haider Abadi untuk meloloskan desakan banyak pihak, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Anbar, supaya relawan al-Hasyd al-Sakbi yang selama ini sukses membebaskan berbagai kawasan Irak dari tangan ISIS dibiarkan masuk ke Anbar. Sekitar 3000 relawan itu belum lama ini dikabarkan sudah masuk ke wilayah Anbar untuk membantu tentara Irak dan pasukan adat Sunni Anbar menumpas ISIS. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL