Moskow, LiputanIslam.com –  Kemhan Rusia memperingatkan bahwa Pusat Rusia untuk Rekonsiliasi Suriah mengetahui keberadaan para ahli asing di Idlib, Suriah,  untuk mengatur sandiwara baru serangan bom kimia yang bertujuan menyalahkan tentara Suriah agar negara ini bisa menjadi sasaran serangan militer Barat. Menyusul peringatan ini puluhan anak kecil menghilang secara misterius di Idlib.

Jubir Kemhan Rusia, Igor Konashinkov, Ahad (26/8/2018), menyatakan telah ada persiapan untuk serangan dengan senjata termal beracun ke Kfar Zita di bagian selatan Idlib dalam dua hari ke depan.

“Ada kelompok-kelompok warga Idlib utara yang akan ikut serta dalam serangan kimia…  Setelah terjadi serangan kimia yang dipersiapkan di Suriah sebagian orang akan mengenakan seragam Helm Putih untuk mengambil gambar-gambar video yang akan diserahkan kepada media Barat dan juru bicara berbahasa Inggris,” ungkap Konashinkov.

Dia menambahkan bahwa sekelompok milisi telah dilatih oleh perusahaan swasta penyedia jasa militer Oliva dari Inggris, dan menyiapkan operasi evakuasi korban serangan bom kimia “fiktif”.

Dia menjelaskan bahwa para ahli berbahasa Inggris telah tiba di desa al-Hubait di selatan zona de-eskalasi di Idlib, untuk mengatur serangan kimia dengan menggunakan gas klorin di Kfar Zita yang hanya berjarak 6 kilometer dari desa itu.

Sementara itu, puluhan anak kecil dilaporkan menghilang secara serempak dari provinsi Idlib dan sekitarnya.

Koran al-Watan milik Suriah menyebutkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata di Idlib telah menculik lebih dari 40 anak kecil dan memboyong mereka ke lokasi yang akan menjadi tempat drama serangan bom kimia.

Sumber-sumber lokal mengatakan sebanyak lebih dari 40 anak sedang dalam kondisi misterius dan diduga kuat telah diculik oleh kelompok Hayat Tahrir al-Sham alias Jabhat al-Nusra di berbagai kawasan di Idlib.

Sehari sebelumnya, Konashinkov, menyatakan ada indikasi bahwa AS bersama sekutunya sedang menyiapkan serangan baru terhadap Suriah. Dia menjelaskan bahwa satu kapal destroyer AS telah tiba di Teluk Persia, sementara jet pembom B1-B siap dilesatkan dari pangkalan AS di Qatar untuk menggempur sasaran-sasaran di Suriah.

“Perilaku negara-negara Barat bertentangan dengan pernyataan terbukanya, dan bertujuan menciptakan eskalasi lain dalam situasi Timteng dan menggagalkan proses perdamaian di Suriah,” ujarnya.(mm/railayoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*