Damaskus, LiputanIslam.com – Presiden Suriah Bashar al-Assad menilai kawasan Timteng sedang kehilangan identitasnya, dan perang di negaranya bisa diselesaikan dalam hitungan bulan seandainya tidak ada campurtangan asing.

Seperti dikutip RT, Senin (10/12/2018), dalam wawancara dengan harian Oman Assad mengatakan, “Ada krisis identitas, yaitu senjata-senjata keji yang sedang dipasarkan di antara bangsa-bangsa Arab. Keji karena beralih ke tahap Amazigh (Berber) dan Kurdi. Kita telah menciptakan identitas-identitas yang menimbulkan berbagai krisis. Sebab, apa hubungan antara ke-Araban, Suryani, dan Kurdi? Memang, entitas-entitas ini ada, dan pembicaraan mengenai ke-Araban, sekularisme, dan Muslim kita telah menciptakan identitas-identitas yang memicu berbagai krisis. Di samping itu juga ada penistaan dan pembusukan di sebagian negara Arab.”

Dia kemudian menegaskan urgensi “mewujudkan identitas yang satu, dan keterhubungan yang satu sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Turki yang bertindak demi penguatan identitas mereka di semua penjuru dunia. Jika hal itu tidak diperangi dengan pemikiran maka peperangan di masa mendatang akan lebih dahsyat, dan saya kira perang di Suriah hanyalah satu terminal saja.”

Dia menambahkan, “Satu pengalaman yang nyata ialah apa yang dialami Rusia yang kami undang. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Rusia dari kondisi ‘warga anti-negara’ dan kebersamaan dengan Amerika Serikat (AS) beralih kepada keadaan di era awal Rusia dengan tampilnya Presiden Putin di mana keadaan kembali kepada nasionalisme.”

Mengenai perang di Suriah dia mengatakan bahwa perang terhadap negaranya dimulai bukan pada tahun 2011, melainkan sejak 20 tahun silam, namun “menemukan puncak pada awal milinium” di mana berbagai persepsi, pemikiran, dan apriori telah dikondisikan sedemikian rupa terhadap Suriah yang notabene bangsa Arab.

Mengenai kapan perang di negaranya akan berakhir, dia mengatakan, “Jika semua faktor asing asing pemicu krisis sudah berakhir maka kami dapat menuntaskan perang dalam hitungan bulan.  Kami optimis pada situasi dalam negeri, karena banyak orang Suriah telah bersama pemerintah. Ini pertanda kondisi nasionalisme telah andil di awal kembalinya berbagai daerah kepada negara sejak pembebasan Daraa, Hama, Homs, dan Aleppo timur.” (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*